KELUARGA PAJAR, PARIMBUNIS

PERSATUAN KELUARGA BESAR KETURUNAN RAJA ALI RAJA JAAFAR (YDM RIAU VIII) DAN ENGKU CHIK TEMENGGUNG ABDUL RAHMAN

KONSEP SIRI Na Pesse BAGI BANGSA BUGIS

Siri na pessé (Bugis) adalah sebuah konsep yang sangat menentukan dalam identitas orang Bugis dan masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya. Konsep siri’ mengacu pada perasaan malu dan harga diri sedangkan pessé mengacu pada suatu kesadaran dan perasaan empati terhadap penderitaan yang dirasakan oleh setiap anggota masyarakat.

1. Sekapur Sirih

Bangsa Bugis dan masyarakat Sulawesi Selatan umumnya dikenal sebagai penganut adat-istiadat yang kuat. Meskipun telah berkali-kali menemui tantangan berat yang ada kalanya hampir menggoyahkan kedudukannya dalam kehidupan dan pikiran mereka, namun pada akhirnya adat-istiadat tersebut tetap hidup dan bahkan kedudukannya makin kukuh dalam masyarakat hingga kini

Keseluruhan sistem dan norma serta aturan-aturan adat tersebut dikenal dengan pangngadereng yang meliputi lima unsur pokok, yaitu ade’, bicara, rapang, wari, dan sara’. Unsur yang disebutkan terakhir ini berasal dari ajaran Islam, yaitu hukum syariah Islam. Kelima unsur pokok tersebut terjalin antara satu dengan yang lain sebagai satu kesatuan organik dalam alam pikiran bangsa Bugis, yang memberi dasar sentimen dan rasa harga diri yang semuanya terkandung dalam konsep siri’. Hal ini tercakup dalam sebuah ungkapan dikalangan Bugis yang mengatakan “utettong ri ade’é najagainnami siri-ku”, artinya, saya taat kepada adat demi terjaganya atau terpeliharanya harga diri saya.

Ungkapan di atas memiliki makna yang sangat dalam dikalangan Bugis. Dengan melaksanakan pangngadereng, berarti seorang Bugis sedang berusaha mencapai martabat hidup yang disebut dengan siri’. Menurut Mattulada (1985:108), siri’ inilah yang mendorong orang Bugis sangat patuh terhadap pangngadereng karena siri pada sebagian besar unsurnya dibangun oleh perasaan halus, emosi, dan sebagainya. Dari sinilah timbul berbagai penafsiran atas makna siri’ seperti malu-malu, malu, hina atau aib, iri hati, dan harga diri atau kehormatan.

Siri’ dalam pengertian orang Bugis adalah menyangkut segala sesuatu yang paling peka dalam diri mereka, seperti martabat atau harga diri, reputasi, dan kehormatan, yang semuanya harus dipelihara dan ditegakkan dalam kehidupan nyata. Siri’ bukan hanya berarti rasa malu seperti yang umumnya terdapat dalam kehidupan sosial masyarakat suku lain. Istilah malu di sini menyangkut unsur yang hakiki dalam diri manusia Bugis yang telah dipelihara sejak mereka mengenal apa sesungguhnya arti hidup ini dan apa arti harga diri bagi seorang manusia (Abdullah, 1985:40-41). Begitu pentingnya siri’ dalam kehidupan orang Bugis sehingga mereka beranggapan bahwa tujuan manusia hidup di dunia ini adalah hanya untuk menegakkan dan menjaga siri’.

Pada hakikatnya budaya siri adalah produk kecerdasan lokal untuk membangun kembali tatanan sosial orang Bugis di masa lalu yang kacau balau. Secara historis, kondisi tersebut digambarkan dalam kronik-kronik Bugis dengan pernyataan bahwa kehidupan manusia pada masa itu bagaikan kehidupan ikan di laut, yang besar memangsa yang kecil atau disebut dengan sianrè balè tauwè.

Bangsa Bugis juga mempunyai sebuah konsep lain yang disebut Pessé, yaitu semacam perangsang untuk meningkatkan perasaan setia kawan yang di kalangan mereka. Pessé adalah suatu perasaan ikut menanggung dan berbelas kasihan terhadap penderitaan setiap anggota kelompoknya, termasuk orang yang telah dibuat malu. Oleh karena itu, konsep pessé ini akan menjadi suatu sarana untuk memulihkan harga diri orang yang telah dibuat malu.

Konsep siri’ dan pessé hingga kini terus memberi pengaruh terhadap seluruh sendi-sendi kehidupan orang Bugis. Situasi siri’ akan muncul ketika seseorang ri pakasiri’ atau dibuat malu karena kedudukan sosialnya dalam masyarakat atau rasa harga diri dan kehormatannya dicemarkan oleh pihak lain secara terbuka. Jika hal ini terjadi, maka orang yang ri pakasiri’ dituntut oleh adat untuk mengambil tindakan untuk menebus atau memulihkan harga dirinya di matanya sendiri maupun di mata masyarakat, yaitu dengan cara menyingkirkan penyebab malu tersebut.

Orang yang ri pakasiri (dibuat malu) tetapi tidak mampu melakukan pemulihan terhadap harga dirinya yang tercemar akan dipandang hina dan dikucilkan oleh masyarakat. Jika hal ini terjadi, maka bagi orang itu pembuangan dianggap lebih baik daripada dikucilkan di tengah-tengah masyarakat. Faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab banyaknya orang Bugis pergi merantau atau meninggalkan kampung halamannya karena tidak sanggup menanggung rasa malu di mata masyarakatnya. Berbagai pendapat, bahwa perkawinan adalah realitas sosial yang paling banyak bersinggungan dengan masalah siri ini. Jika pinangan seseorang ditolak, maka pihak peminang bisa merasa mate siri (kehilangan kehormatan) sehingga terpaksa menempuh siliriang (kawin lari). Tindakan ini merupakan perbuatan melanggar adat sehingga seluruh pihak keluarga laki-laki gadis itu merasa berkewajiban untuk membunuh pelaku demi menegakkan siri’ keluarga.

Orang yang ri pikasiri’ dapat melakukan jallo (amuk), yaitu membunuh siapa saja, bahkan orang yang tidak terlibat dalam masalah itu pun dapat menjadi sasaran amukannya. Hal ini dapat terjadi dalam beberapa hal yang cukup ekstrem. Namun, sejak terintegrasikannya agama Islam ke dalam sistem pangngadereng bangsa Bugis, penebusan-penebusan siri berupa pembalasan dan penganiayaan tanpa pertimbangan kemanusiaan mulai berubah. Dengan kata lain, penebusan siri yang sering dianggap orang melampui batas tersebut menjadi lebih terarah penerapannya sejak kedatangan agama Islam. Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar menjauhkan diri dari kejahatan dan perbuatan maksiat seperti membunuh. Namun, jika terjadi kasus yang menyebabkan harga diri seseorang diinjak-injak, maka kasus tersebut diserahkan kepada pihak yang berwewenang, seperti lembaga adat atau pihak kepolisian.

2. Konsep Siri’

Siri adalah suatu hal yang abstrak dan berada di alam pikiran manusia Bugis. Pengertiannya hanya dapat diketahui melalui pengamatan dan observasi dengan melihat akibat konkret yang ditimbulkannya, yaitu berupa tindakan-tindakan. Oleh sebab itu terkandung pengertian-pengertian tertentu yang meliputi berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan masyarakat dalam kata siri’ ini. Para peneliti terdahulu telah mengkaji mengenai pengertian siri secara leksikal maupun pengertiannya secara luas menurut sudut pandang mereka masing-masing.

Batasan pengertian kata siri’ sebagai berikut:

1. Siri’ berarti malu, isin (Jawa), atau shame (Inggris).
2. Siri’ merupakan daya pendorong untuk melenyapkan (membunuh), mengasingkan, mengusir dan sebagainya terhadap apa atau siapa saja yang dapat menyinggung perasaan atau harga diri seseorang.
3. Siri’ juga merupakan daya pendorong yang dapat ditujukan ke arah pembangkitan tenaga untuk membanting tulang dan bekerja mati-matian demi suatu pekerjaan atau usaha.
4. siri merupakan pembalasan yang berupa kewajiban moril untuk membunuh pihak yang melanggar adat.
5. siri’ sebagai perasaan malu yang dapat menimbulkan sanksi dari keluarga yang dilanggar norma adatnya .
Selain pendapat para peneliti, berbagai ungkapan dalam bahasa Bugis yang terwujud dalam kesusasteraan, paseng (nasehat), dan amanat-amanat dari leluhur dapat dijadikan petunjuk untuk memahami tentang pengertian siri’.Seperti ungkapan berikut:

a. Siriemmi ri onroang di lino, artinya hanya untuk siri-lah kita hidup di dunia ini. Pengertian siri’ dalam ungkapan ini merupakan hal yang memberikan identitas sosial dan martabat kepada seseorang. Hidup seseorang dianggap berarti jika pada dirinya terdapat martabat atau harga diri.
Dalam kehidupan bangsa Bugis, siri merupakan unsur yang prinsipil dalam diri mereka. Tidak ada satu nilai pun yang paling berharga untuk dibela dan dipertahankan di muka bumi ini selain daripada siri’. Bagi manusia Bugis, siri’ adalah jiwa mereka, harga diri mereka, dan martabat mereka. Oleh sebab itu, untuk menegakkan dan membela siri yang tercemar atau dicemarkan oleh orang lain, maka manusia Bugis akan bersedia mengorbankan apa saja, termasuk jiwanya yang paling berharga demi tegaknya siri dalam kehidupan mereka.”

b. Mate ri sirina, artinya mati dalam siri atau mati karena mempertahankan harga diri. Mati dalam keadaan demikian dianggap mati terpuji atau terhormat. Dalam bahasa Bugis ada juga ungkapan mate rigollai, mate risantangi, yaitu menjalani kematian yang bergula dan bersantan, atau dengan kata lain menjalani kematian yang manis.

c. Mate siri, artinya orang yang sudah hilang harga dirinya tak lebih dari bangkai hidup. Agar tidak dianggap sebagai bangkai hidup, maka orang Bugis merasa dituntut untuk melakukan penegakan siri walaupun nyawanya sendiri terancam. Menurut mereka, lebih baik mati ri risi-na daripada mate siri, artinya lebih baik mati karena mempertahankan harga diri daripada hidup tanpa harga diri.

Pengertian–pengertian siri di atas memperlihatkan bahwa keberadaan konsep siri dalam kehidupan bangsa Bugis dapat juga menjadi pemutus tali kekeluargaan dan persaudaraan di antara mereka. Namun, dalam realitas sosial, keadaan demikian tidak terjadi karena dapat dinetralisir oleh keberadaan sebuah konsep yang disebut dengan pessé. Secara leksikal, pessé berarti pedis atau perih, sedangkan pessé dalam pengertian luas mengindikasikan perasaan haru (empati) yang mendalam terhadap tetangga, kerabat, atau sesama anggota kelompok sosial.

Pessé melambangkan solidaritas bukan hanya pada seseorang yang telah dipermalukan tetapi juga siapa saja dalam kelompok sosial yang sedang dalam keadaan serba kekurangan, berduka, mengalami musibah, atau menderita sakit keras. Jadi, rasa saling pessé antaranggota sebuah kelompok adalah kekuatan pemersatu yang penting. Oleh sebab itu, ada pepatah orang Bugis yang mengatakan “iya sempugi’ku, rekkua de-na sirina, engka messa pesséna”, artinya “kalaupun saudaraku sesama Bugis tidak lagi menaruh siri’ atasku, paling tidak dia pasti menyisakan pessé”. Dengan demikian, antara siri’ dan pessé harus tetap ada keseimbangan agar bisa saling menetralisir keadaan-keadaan ekstrem yang dapat menjadi pemecah-belah persatuan dan kesatuan komunitas bangsa Bugis.

Peristiwa siri yang muncul dalam diri orang Bugis sebenarnya berasal dari aspek pangngadereng itu sendiri. Oleh karena itu, pemulihan siri tersebut dapat ditempuh melalui nilai-nilai pangngadereng juga. seperti ungkapan berikut:

1. Ada empat hal yang memperbaiki kekeluargaan (pergaulan hidup): (a) kasih sayang dalam keluarga, (b) saling memaafkan yang kekal, (c) tak segan saling memberi pertolongan/pengorbanan demi keluhuran, (d) saling mengingatkan untuk berbuat kebajikan.

2. Bukankah dengan demikian berarti ade’ ada buat kasih sayang, bicara ada buat saling memaafkan, rapang ada buat saling memberi pengorbanan demi keluhuran, dan adanya wari buat mengingati perbuatan kebajikan?”

Tujuan hidup menurut pangngadereng adalah melaksanakan tuntutan fitrah manusia guna mencapai martabatnya, yaitu siri. Bila pangngadereng beserta aspek-aspeknya tidak ada lagi, akan terhapuslah fitrah manusia, hilanglah siri, dan hidup tidak ada artinya bagi orang Bugis. Oleh karena itulah orang Bugis sangat patuh terhadap pangngadereng demi siri atau harga diri. Orang yang memiliki rasa siri yang tinggi berarti orang yang mempunyai sifat yang mulia dan tinggi nilai atau martabatnya di tengah-tengah masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut, maka perilaku setiap individu harus didasarkan pada sifat “acca na lempu, warani na getteng, mappasanre ri Puang SeuwaE,” artinya pandai mempertimbangkan dan jujur, berani dan teguh pendirian, berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ungkapan ini menunjukkan bahwa esensi siri’ hanya mungkin diperoleh seseorang yang pandai dan jujur, berani dan teguh, serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan demikian, konsep siri’ yang sampai sekarang diyakini secara konsisten oleh orang Bugis mempengaruhi tatanan kehidupan bagi masyarakat pendukungnya. Pengaruh-pengaruh tersebut di antaranya ketaatan kepada pangngadereng, penegakan harga diri atau martabat, identitas sosial, tradisi merantau dan motivasi kerja, dan kontrol sosial,yaitu

a. Ketaatan kepada pangngadereng. Konsep siri merupakan tuntutan budaya terhadap setiap individu untuk mempertahankan kesucian pangngadereng sehingga keamanan, ketertiban, dan kesejahtaraan masyarakat tetap terjamin. Pangngadereng adalah sistem norma dan aturan-aturan adat serta tata tertib yang berfungsi sebagai kontrol sosial, baik bersifat preventif maupun represif, dalam mengatur seluruh tingkah laku manusia. Sebagai langkah preventif, dalam sistem ini diajarkan bagaimana manusia mengenal perbuatan yang baik dan buruk. Dengan demikian, seseorang yang akan berbuat sudah mengetahui akibat-akibat dari perbuatannya. Jika terjadi sebuah pelangggaran terhadap tata tertib masyarakat, maka sistem ini akan memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya kepada siapa pun pelakunya, termasuk penguasa.

Pangngadereng menunjung tinggi persamaan dan kebjiksanaan namun menolak segala bentuk kesewenang-wenangan, pemerkosaan, penindasan, dan kekerasan. Sistem pangngadereng mengandung esensi yang sangat bernilai bagi pendukungnya, yaitu menjunjung tinggi martabat manusia. Oleh karena itulah setiap individu dituntut untuk menjunjung tinggi dan menaati adat tata kelakuan atau sistem pangngadereng yang berlaku. Dengan melaksanakan pangngadereng, berarti seseorang telah berusaha mencapai martabat hidup yang disebut dengan siri.

b. Penegakan harga diri dan martabat. Siri pada diri manusia Bugis dapat muncul dari berbagai realitas sosial dan kehidupan sehari-hari. Jika seseorang telah dibuat tersinggung oleh kata-kata atau tindakan orang lain yang dianggapnya tidak sopan, maka seluruh anggota keluarganya akan ikut merasa tersinggung dan melakukan pembalasan terhadap orang itu demi menegakkan harga diri keluarga. Salah satu realitas sosial yang paling banyak bersinggungan dengan masalah siri adalah perkawinan. Jika seseorang telah ri pakasiri’ atau dibuat malu karena anak gadisnya ilariang atau dibawa lari oleh seorang pemuda, maka seluruh pihak keluarga laki-laki gadis itu merasa berkewajiban untuk membunuh pelaku demi menegakkan siri’ keluarga.

c. Identitas sosial. Siri adalah unsur yang sangat prinsipil dalam diri orang Bugis. Hidup seseorang dianggap berarti jika pada dirinya terdapat martabat atau harga diri. Menurut mereka, tak ada satu nilai pun yang berharga untuk dibela dan wajib dipertahankan selain daripada siri’ karena hanya untuk siri’-lah kita hidup di bumi ini (siri’ emmi ri onroang ri lino). Ungkapan ini menjadi identitas sosial yang dianut secara bersama-sama oleh golongan-golongan tertentu dalam masyarakat Sulawesi Selatan.

d. Tradisi merantau dan motivasi kerja keras. Keberadaan konsep siri dapat menjadi motif penggerak banyak orang Bugis pergi merantau. Seseorang yang tidak mampu melakukan pembelaan untuk menegakkan harga dirinya, maka ia akan dicap oleh masyarakat sebagai tau de’ gaga siri-na (pengecut, tidak terhormat, atau tidak memiliki harga diri). Oleh karena itu, tidak ada jalan lain yang harus ditempuh kecuali meninggalkan kampung halamannya. Perantau yang berasal dari kelompok ini umumnya merupakan perantau abadi, artinya ia dan keluarganya tidak ingin kembali ke negeri asalnya.

Ada pula orang yang merantau terkait dengan masalah siri¸ yaitu para pemuda yang dibuat malu karena pinangannya ditolak akibat ketidamampuannya memenuhi mahar yang diminta oleh pihak keluarga perempuan. Dengan merantau, mereka akan berusaha bangkit untuk mengembalikan harga dirinya di perantauan, walau bagaimanapun keadaan yang dihadapinya. Mereka tidak akan mengeluh, memohon bantuan dan meratapi nasibnya sebagai perantau yang kalah dan cengeng dalam menghadapi berbagai tantangan berat. Mereka akan berusaha mencapai keberhasilan agar dapat memiliki kemampuan materi dan kemudian kembali ke negeri asalnya untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pemuda yang bertanggung jawab.

e. Kontrol sosial. Dalam realitas kehidupan orang Bugis, pengertian siri tidak melulu bersifat menentang dalam artian melakukan penebusan-penebusan demi tegaknya harga diri seseorang, tetapi siri’ juga dapat dimaknai sebagai perasaan halus dan suci. Seseorang yang tidak mendengarkan nasehat orang tua, suka mencuri dan merampok, tidak melaksanakan shalat, atau tidak tahu sopan santun juga dianggap sebagai orang yang kurang siri’-nya. Jadi, siri’ dapat menjadi sebuah kontrol sosial bagi setiap individu maupun masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari sehingga pelanggaran-pelanggaran adat, hukum, maupun tata kesopanan dapat terjaga dengan baik.

Sehingga dapat disimpulkan, bahwa Siri yang dianut oleh orang Bugis dan masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk membangun ketertiban, keharmonisan, dan keamanan kehidupan sosial sehingga harga diri dan martabat manusia menjadi bernilai. Hingga sekarang, konsep ini masih tetap dipegang teguh oleh masyarakat Bugis sebagai pedoman dalam berperilaku sehari-hari. Hanya saja, nilai-nilai yang terkandung di dalam konsep siri sudah mulai luntur. Nilai-nilai siri yang semestinya didasarkan pada “acca na lempu, warani na getteng, mappasanre ri Puang SeuwaE” sudah banyak diabaikan oleh sebagian orang sehingga muncul berbagai multitafsir tentang mereka. Oleh karena itu, hendaknya pengertian siri tidak hanya dimaknai secara sempit sehingga dalam prakteknya tidak menyimpang dari makna yang sesungguhnya. Dengan demikian, tatanan kehidupan manusia di muka bumi ini menjadi tertib, harmonis, dan aman.

Daftar Pustaka

Cristian Pelras. 2006. Manusia Bugis. (Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh Abdul Rahman Abu, et.al.). Jakarta: Forum Jakarta-Faris École français d’Extrême-Orient.

Edward L. Poelinggomang. 2009. “Bushido’ dan Siri’ mengandung sikap patriot”

Hamid Abdullah. 1985. Manusia Bugis Makassar. Jakarta: Inti Idayu Press.

Leonard Y. Andaya. 1983. “Pandangan Arung Palakka tentang desa dan perang Makassar 1666-1669”, Dari Raja Ali Haji hingga Hamka: Indonesia dan masa lalunya, (Ed.) Anthony Reid dan David Marr. Jakarta: Grafiti Pers.

Mattulada. 1985. Latao: Satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Dan Sumber lainnya.

Makanan Bugis

Si Hitam Manis Dari Bugis



Oleh Daeng Gassing

Hari pertama masuk kantor selepas libur Idul Fitri. Seperti biasa, semua orang saling bersalam-salaman, memohon maaf dan saling memaafkan. Tak lupa bertukar cerita seputar perayaan Idul Fitri. Seorang teman yang baru saja mudik dari kampung halaman menyodorkan beberapa biji tape ketan hitam, kontan air liur saya terasa membasahi rongga mulut. Tape ketan hitam adalah salah satu panganan favorit saya yang biasanya banyak beredar di seputaran Idul Fitri.

Orang Bugis-Makassar menyebutnya tape saja, sementara orang Jawa biasa menyebutnya tape ketan hitam karena di beberapa tempat di Jawa, tape berarti singkong yang diragi. Di Makassar, singkong yang diragi itu disebut poteng. Tape ketan hitam- atau yang selanjutnya disebut tape saja – adalah salah satu makanan khas lebaran bagi orang-orang Bugis. Sebenarnya makanan yang rasanya kecut plus manis ini tak hanya ada di hari raya, tapi sepertinya hari raya kadang rasanya tak lengkap tanpa tape.

Di Sulawesi Selatan tape juga lebih identik dengan suku Bugis meski di beberapa tempat di basis warga suku Makassar kadang ada juga yang menyajikan tape di hari lebaran. Beberapa kabupaten yang dihuni warga bersuku Bugis seperti Barru, Pare-Pare, Pinrang, Sidrap, Soppeng, Sengkang dan Bone dikenal sebagai produsen tape terbaik di Sulawesi Selatan. Tak heran jika banyak pemudik yang baru saja kembali dari daerah-daerah itu selalu membawa serta tape sebagai oleh-oleh untuk para tetangga atau teman di kota Makassar.

Membuat tape ini gampang-gampang susah. Tidak sembarang orang yang bisa membuat tape dengan kualitas
terbaik. Beberapa teman yang saya temui mengaku angkat tangan kalau disuruh membuat tape, bukan hanya para wanita muda saja, beberapa ibu-ibu juga merasa kurang percaya diri kalau disuruh membuat tape. Mereka lebih mempercayakan proses pembuatannya pada kalangan yang lebih tua dari mereka.

Tape sebagian besar berbahan beras ketan hitam namun kadang ada juga yang bahannya dari beras ketan putih. Awalnya beras ketan hitam itu dikukus dalam dandang. Setelah matang kemudian dibentuk seperti bola-bola kecil dengan kepalan tangan kemudian diangin-anginkan. Biasanya proses ini dilakukan di atas alas daun pisang. Setelah dirasa cukup bahan tape yang sudah setengah jadi ini ditaburi ragi dan dibiarkan selama beberapa hari hingga proses peragian dirasa sempurna. Proses ini bisa memakan waktu 2-3 hari.

Kalau melihat dari cara pembuatannya, kelihatannya memang gampang tapi percayalah tak semua orang bisa membuat tape. Tape yang bagus menurut saya adalah tape yang punya campuran rasa manis dan kecut yang pas serta biji berasnya tak begitu keras.

Proses pembuatan tape yang berkualitas juga ternyata ada syarat-syaratnya. Syarat utama adalah soal kebersihan. Para pekerja dituntut untuk menjaga kebersihan tangannya dalam proses pembuatan tape. Selain kotoran, tangan juga harus bersih sama sekali dari minyak. Ada yang unik dalam proses pembuatan tape, para wanita yang sedang haid dilarang keras untuk ikut membuat tape. Entah bagaimana penjelasan ilmiahnya, tapi banyak yang percaya kalau calon tape yang disentuh oleh wanita haid tidak akan jadi dengan sempurna atau terkadang jadi tapi dengan rasa yang pahit.

Di beberapa daerah, ada lagi yang percaya kalau tape tidak boleh dibawa berkendaraan karena bisa membawa sial alias kecelakaan di perjalanan saya. Seorang ibu asal kabupaten Soppeng sungguh percaya pada takhyul itu. Dia tak pernah mau memenuhi permintaan teman-temannya yang meminta oleh-oleh tape setiap kal habis mudik dari kampung halaman. Dari ceritanya, dia memang pernah mengalami kecelakaan ketika membawa tape dari kampung halamannya ke kota Makassar. Entah karena tape itu atau karena sebab lain, yang jelas si ibu sampe sekarang tetap memegang teguh kepercayaannya pada takhyul tersebut.

Tiap orang biasanya punya cara sendiri-sendiri untuk menikmati tape, meski cara paling umum adalah dengan menyantapnya sendirian. Bagi saya sendiri, cara paling nikmat untuk menghabiskan tape adalah pertama dengan membiarkannya di dalam kulkas untuk beberapa waktu hingga tape tersebut betul-betul dingin. Setelah dingin, biasanya saya menghabiskan tape itu bersama sirup DHT dan sedikit susu putih. Rasanya, hmmmm..sungguh luar biasa nikmat. Saya pernah menghabiskan 8 biji dalam satu kali makan.

Tapi, kita juga musti hati-hati dalam menyantap tape ini. Karena prosesnya yang menggunakan ragi, maka masa berlaku atau masa kadaluarsanya juga patut diperhatikan. Tape yang sudah agak lama bisa memabukkan seperti reaksi setelah meminum alkohol. Tape juga sangat tidak dianjurkan bagi mereka yang menderita maag, apalagi maag yang akut. Saya juga sering mendengar petuah untuk tidak memakan tape bersamaan dengan sprite atau minuman bersoda lainnya apalagi dengan buah-buahan yang bersifat panas seperti durian dan nangka. Saya pernah mendengar ada orang yang meninggal karena menggabungkan tape dan sprite. Entah apa betul karena pengaruh tape.

Di daerah Enrekang, tape disajikan dengan mencampurnya bersama cendol ( dawet) sehingga kemudian beken dengan nama Cinta singkatan dari cindolo’ tape, dalam bahasa daerah cendol atau dawet disebut dengan nama cindolo’ atau cendolo’.

Itulah sedikit cerita tentang tape, si hitam manis dari Bugis. Idul Fitri memang rasanya tak lengkap tanpa hadirnya si hitam manis itu di atas meja makan atau meja tamu. Tak heran memang mengingat rasanya yang sungguh menggoda apalagi dengan cara penyajian yang pas. Membayangkannya saja, mulut saya rasanya sudah penuh dengan liur. Ah, sepertinya saya harus bersabar setahun lagi sebelum bisa kembali berpesta tape.

Tokoh Bugis

Faqih Ali Al-Malbari moyang dan ulama raja-raja Melayu

TOKOH yang diperkenalkan ini berbeza dengan beberapa tokoh bernama Ali yang pernah dibicarakan sebelum ini, iaitu Syeikh Wan Ali bin Ishaq al-Fathani, Syarif Ali Brunei dan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani.

Faqih Ali al-Malbari yang akan diperkenalkan dalam rencana kali ini juga bernama Andi' Ali. Terdapat percanggahan pendapat mengenai negeri asalnya kerana ada pendapat mengatakan beliau berasal dari negeri Malabar (India) dan pendapat yang lain pula mengatakan berasal dari negeri Bugis (Sulawesi Selatan, Indonesia).

Dalam zaman yang sama, terdapat seorang lagi tokoh yang bernama Syeikh Faqih Ali yang berasal dari Patani yang dikatakan orang yang sama dengan Faqih Ali al-Malbari atau Andi' Ali, kerana sama-sama menjalankan aktiviti di Sulawesi Selatan, Johor, Kelantan dan Patani.

Namun demikian, penulis tidak dapat memastikan tentang perkara tersebut, apakah benar orang yang sama atau tokoh yang berlainan. Tetapi dapat dipastikan bahawa tokoh yang akan diperkenalkan ini adalah seorang tokoh besar dunia Melayu yang mempunyai zuriat yang ramai menjadi ulama dan raja dalam beberapa kerajaan di Patani dan Kelantan, bahkan terdapat juga di beberapa tempat-tempat lain dunia Melayu.

Asal Usul
Dalam buku yang bertajuk Ringkasan Cetera Kelantan oleh Datuk Nik Mahmud, Datuk Perdana Menteri Paduka Raja Kelantan, ada menyatakan seperti berikut, “Syahdan pada suatu masa, bulan sedang mengambang, di tepi langit, tersebutlah anak raja Bugis lari daripada saudaranya. Menumpang sebuah bahtera sampai ke Johor dan tumpang duduk berkirim diri di rumah Laksamana Kota Tinggi. Dipanggil orang 'Andi' Ali'. Tatkala Laksamana memandang kepadanya, berasa kasihan belas, dan dipeliharakannya sebagai anak sendiri. Tidak berapa tahun kemudian daripada itu, dijodohkan dengan anaknya yang bernama 'Wan Tija'.


Tidak berapa lama lepas itu, Andi' Ali serta dengan isterinya pun beredar ke Patani. Menumpang di rumah Mekong Damit, Kampung Bira, pada tahun Hijrah 1049 (kira-kira 1640M). Maka kerana lemah lembut tingkah lakunya, dan berpelajaran, orang di Patani memanggilnya Faqih Ali. Di situ ia beristeri Cik Dewi anak Seri Biji Diraja. Faqih Ali beroleh beberapa anak laki-laki dan perempuan dengan kedua-dua isterinya (Wan Tija dan Cik Dewi)…”

Dalam salah satu salasilah yang penulis peroleh dari Terengganu ada tertulis seperti berikut, “Faqih Ali Malbari, asal anak raja Bugis keluar daripada negerinya pergi ke Malabar kerana menuntut ilmu agama dan tinggal di sana dengan menyembunyikan bangsanya. Dan menamakan dirinya Faqih Ali, kemudian masuk ke Johor dan ke Patani. Anak cucunya di Patani, di Kelantan, di Terengganu, dan seluruh negeri Melayu.”

Riwayat yang lain pula berdasarkan beberapa silsilah terutama yang ditulis oleh Haji Nik Ishak, Tingkat, Kelantan, yang menyatakan bahawa Andi' Ali itu namanya juga ialah Syeikh Ali al-Malbari. Namun begitu, riwayat tokoh ini masih kabur kerana dalam versi yang lain dikatakan beliau berasal dari negeri Bugis dan ada pula yang menyebut dari Malabar. Malahan yang lebih menyukarkan apabila dikatakan salasilah yang ditemui di Patani menyebut bahawa Syeikh Shafiyuddin Datuk Pujuk Pemerintah Patani adalah anak Faqih Ali al-Malbari.

Sekiranya Syeikh Shafiyuddin yang dimaksudkan adalah yang bergelar Tok Raja Faqih, maka cukup jelas bahawa ia tidak tepat. Namun jika yang dimaksudkan adalah orang lain, masih boleh diambil kira sebagai satu catatan salasilah yang betul.

Adapun gelaran Tok Raja Faqih yang dimaksudkan tersebut adalah seorang tokoh Patani yang bernama Faqih Ali, iaitu putera Wan Muhammad bin Syeikh Shafiyuddin. Beliau merupakan orang pertama yang menyusun Tarikh Patani dalam bahasa Melayu yang berdasarkan karya datuk/neneknya Syeikh Shafiyuddin yang ditulis dalam bahasa Arab. Faqih Ali ini adalah seorang pembesar Patani yang digelar Datuk Maharajalela. Beliaulah yang mencari bantuan kerajaan Bone di Sulawesi apabila terjadinya peperangan antara Patani dengan Siam tahun 1632 M.

Diriwayatkan bahawa beliau wafat di Sulawesi dan juga dikatakan beliau pulang ke Semenanjung dengan menggunakan nama Faqih Ali al-Malbari atau Andi' Ali itu. Namun, masih sukar untuk dipastikan apakah yang bernama Faqih Ali itu hanya seorang atau dua atau tiga orang yang bernama sama tetapi hidup sezaman. Oleh kerana Faqih Ali al-Malbari tidak diketahui nama orang tuanya, maka masih belum boleh disimpulkan pendapat bahawa tokoh yang dimaksudkan hanya seorang sahaja, iaitulah Faqih Ali, pembesar Patani tersebut. Nama orang tuanya ialah Wan Muhammad bin Syeikh Shafiyuddin, iaitu Tok Raja Faqih.

Terdapat pendapat yang lain pula, dikatakan bahawa Faqih al-Malbari adalah saudara kandung Ibrahim Datu Kelantan VI (1632-1637 M) yang digelar dengan Ong Chai Nyek Ong Brohim Po Nrp yang menjadi raja di Campa tahun 1637 - 1648 M. Namun masih timbul keraguan kerana dikatakan bahawa ayah Faqih Ali dan Ibrahim bernama Mustafa Datu Jambu bergelar Sultan Abdul Hamid Syah atau Ong Tpouo atau Po Rome yang kemudiannya bergelar Raja Sri Sarvasades, iaitu raja Campa tahun 1577 - 1637 M.

Ayahnya pula bernama Abdul Muzaffar Waliullah. Berpunca daripada Abdul Muzaffar inilah menurunkan ulama-ulama dan tokoh-tokoh besar Patani, Kelantan, Terengganu dan lain-lain termasuklah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim al-Fathani dan ramai lagi.

Namun dalam penemuan penulis yang berdasarkan silsilah yang ditulis oleh Syeikh Muhammad Nur bin Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani di Makkah, nenek moyang mereka ialah Syeikh Ibrahim bin Abar al-Hadhrami. Perkara ini pertama kali penulis perkenalkan dalam Konvensyen Sejarah Kedah pada tahun 1996, dengan kertas kerja yang berjudul 'Hubungan Ulama Patani dan Kedah: Kekeluargaan, Pertalian Ilmu dan Karya.'

Apabila dibandingkan dengan catatan-catatan yang lain, beliau juga bernama Syeikh Ibrahim al-Hadhrami bin Saiyid Jamaluddin al-Kubra. Di Patani, beliau memperolehi lima orang anak yang menjadi tokoh dan ulama. Bermula kelima-lima anak beliau itu lahirnya ulama Patani dan Semenanjung yang sangat ramai.

Beliau pergi pula ke Kemboja dan memperolehi beberapa orang anak, salah seorang daripadanya ialah Raden Rahmatullah atau Raden Rahmat yang kemudiannya lebih masyhur dengan gelaran 'Sunan Ampel', iaitu salah seorang Wali Songo atau Wali Sembilan di Jawa.

Adapun Abdul Muzaffar Waliullah pula adalah bersaudara kandung dengan Syarif Hidayatullah atau lebih terkenal dengan gelaran Sunan Gunung Jati yang menyebarkan Islam di Jawa Barat. Melalui beliaulah berkembangnya ulama-ulama dan sultan-sultan Banten. Beliau juga adalah termasuk salah seorang dalam Wali Songo atau Wali Sembilan. Saudaranya pula ialah Sultan Babullah (Sultan Ternate). Ayah Abdul Muzaffar Waliullah, juga ayah kepada Sunan Gunung Jati dan Sultan Babullah ialah Sultan Abu Abdullah 'Umdatuddin atau Wan Abu atau Wan Bo (Bo Teri Teri) atau Maulana Israil iaitulah raja Campa tahun 1471 M. Manakala ayahnya pula ialah Saiyid Ali Nur Alam.

Terdapat Dua Kerajaan Patani
Yang dimaksudkan "terdapat dua kerajaan Patani" ialah sebuah Kerajaan Patani terletak di utara Semenanjung Tanah Melayu (sudah diketahui ramai) dan sebuah lagi yang terletak di Pulau Halmahera, Kepulauan Maluku, Indonesia. Sekiranya benar Sultan Babullah (Sultan Ternate) adalah putera Sultan Abu Abdullah 'Umdatuddin (Cam) yang asal usulnya dari Patani maka tidaklah mustahil bahawa kerabat Diraja Patani di utara Semenanjung Tanah Melayulah yang mengasaskan Kerajaan Patani di Ternate (Halmahera).

Dengan informasi di atas dapat dipastikan bahawa sejak lama ada hubungan antara Patani, Cam/Campa/Kemboja, Jawa, Ternate, dan tempat-tempat lainnya. Sehubungan dengan wujudnya dua Kerajaan Patani (di Segenting Kera dan Ternate) telah disebut mengenainya oleh Drs. Abdul Rahman Al-Ahmadi di dalam Pendidikan Islam di Malaysia (manuskrip) katanya, "...sebuah negeri bernama Patani di Halmahera, dalam daerah Tidore, di Timur Laut Semenanjung Halmahera berbatasan dengan daerah Maba dan Weda..." dan juga telah disebut oleh Pehin Orang Kaya Amar Diraja Dato Seri Utama(Dr.) Haji Awang Muhammad Jamil Al-Sufri di dalam bukunya Tarsilah Brunei tertulis ..." Sheikh Amin dan Sheikh Umar menyebarkan agama Islam di Halmahera Belakang, Maba, Patani dan sekitarnya...". Dengan terdapatnya informasi ini maka masih dapat diambil kira bahawa ada hubungan antara Patani (Segenting Kera) dengan Patani di (Ternate), dan dapat diterima akal bahawa melalui jalur dari Patani ke Cam sehingga melahirkan sekurang-kurangnya tiga orang bersaudara, iaitu: Abdul Muzaffar Waliyullah, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dan Sultan Babullah (Sultan Ternate). Ketiga-tiganya adalah cucu Saiyid Ali Nur Alam, yang dibesarkan di Patani dan ramai keturunannya di sana. Baik salasilah Faqih Ali mahu pun salasilah Saiyid Ali nur Alam yang menurunkan tokoh-tokoh yang tersebut bercampur aduk dan membaur, masih sukar mencari titik temu secara pasti. Salasilah pila terdiri berbagai-bagai versi ada yang sama dan ada yang sangat jauh perbezaan antara satu dengan lainnya. Banyak faktor yang menyebabkan demikian di antaranya ialah kadang-kadang seorang tokoh mempunyai dua nama atau tiga nama gelar.

Keturunan Faqih Ali al-Malbari
Menurut Datuk Nik Mahmud dalam buku Ringkasan Cetera Kelantan, bahawa Faqih Ali/Andi' Ali mempunyai anak yang ramai tetapi yang dijelaskan namanya dalam salasilah ialah :
1. Wan Derahman
2. Wan Namah
3. Wan Nik (Datuk Wan)
4. Wan Siti
Salasilah versi Patani pula menyebut anak-anak Faqih Ali al-Malbari seperti berikut :
* Syeikh Shafiyuddin (Datuk Pujuk Pemerintah Patani)
* Nik Din Menteri Lagi Pahlawan Bagi Datuk Pujuk 1
* Wan Ismail Tok Kaya Pandak/Pendek
* Tok Kaya Rakna Diraja
* Wan Faqih Husein
* Wan Nguk (isteri Tok Kaya Banggul)

Salasilah versi Terengganu pula adalah sama dengan versi Patani, tetapi tiada dinyatakan dua nama iaitu Syeikh Shafiuddin dan Nik Din. Manakala Wan Nguk pula ditambah namanya juga Wan Ngah, isteri Tok Kaya Banggul, anak cucunya keturunan kepada Wan Ahmad di Perlis.

Silsilah keturunan tokoh ini jika dijabarkan keseluruhannya memerlukan keterangan yang panjang dalam sebuah buku. Oleh itu, penulis dapat nyatakan beberapa keturunan beliau yang menjadi tokoh dan ulama penting dunia Melayu, antaranya adalah:

lSyeikh Abdul Qadir al-Fathani, seorang ulama yang mendidik ramai ulama Terengganu. Salasilahnya : Syeikh Abdul Qadir al-Fatani Bukit Bayas bin Tok Wan Abdur Rahim bin Tok Wan Deraman bin Tok Wan Abu Bakar bin Wan Ismail Tok Kaya Pandak/Pendek.

lSyeikh Nik Mat Kecil al-Fathani, penyusun Matla' al-Badrain yang terkenal. Silsilahnya : Syeikh Muhammad bin Wan Ismail bin Wan Ahmad bin Wan Idris bin Haji Wan Tih, ibunya Wan Nik/Tok Wan Ti suaminya Wan Zubeid/Tok Wan Dahit, Wan Nik binti Tok Wan Abu Bakar bin Wan Ismail Tok Kaya Pandak/Pendek.

lLong Yunus. Silsilahnya : Long Yunus bin Long, Sulaiman bin Tuan Besar (Long Baha) Datuk Kelantan bin Wan Daim (Datu Pangkalan Tua) Raja Patani bin Wan Nik (Datuk Wan).

Datuk Nik Mahmud, Datuk' Perdana Menteri Paduka Raja Kelantan menulis bahawa tiga anak Datuk Pangkalan Tua Raja Patani (Wan Daim) telah menghadap Raja Umar Jembal dan ketiga-tiganya berkahwin di Kelantan. Mereka adalah:
* Tuan Sulung dikahwinkan dengan Cik Biru anak Penghulu Hitam Kampung Laut.
* Tuan Besar dikahwinkan dengan Raja Pah puteri Raja Umar.
* Tuan Senik dikahwinkan dengan Cik Seku anak Penghulu Deramat Kampung Geting, menjadi Raja di negeri Bukit Jarum Legih, kotanya bernama Kota Pasir Mas.

Huraian susur galur salasilah yang dinyatakan dalam rencana ini hanya sebahagian sahaja, ini kerana keturunan beliau sangat ramai yang menjadi tokoh sama ada yang menjadi ulama mahupun menjadi sultan. Tetapi penulis tidak dapat menyenaraikan kesemuanya sekali, hanyalah sebagai pengenalan ringkas mengenainya. Sebagai penutupnya, penulis menyimpulkan bahawa sekiranya ditulis salasilah yang lengkap, boleh dikatakan kebanyakan golongan raja-raja Melayu mempunyai kaitan sebagai keturunan Faqih Ali al-Malbari, baik dari pihak sebelah lelaki mahupun dari pihak sebelah perempuan.

Sejarah Orang Bugis

Sejarah Orang Bugis

Epos La GaligoOrang bugis memiliki berbagai ciri yang sangat menarik. Mereka adalah contoh yang jarang terdapat di wilayah nusantara. Mereka mampu mendirikan kerajaan-kerajaan yang sama sekali tidak mengandung pengaruh India. Dan tanpa mendirikan kota sebagai pusat aktivitas mereka.

Orang bugis juga memiliki kesastraan baik itu lisan maupun tulisan. Berbagai sastra tulis berkembang seiring dengan tradisi sastra lisan, hingga kini masih tetap dibaca dan disalin ulang. Perpaduan antara tradisi sastra lisan dan tulis itu kemudian menghasilkan salah satu Epos Sastra Terbesar didunia Yakni La Galigo yang naskahnya lebih panjang dari Epos Mahabharata.

Bissu dalam la GaligoSelanjutnya sejak abad ke 17 Masehi, Setelah menganut agama islam Orang bugis bersama orang aceh dan minang kabau dari Sumatra, Orang melayu di Sumatra, Dayak di Kalimantan, Orang Sunda dijawa Barat, Madura di jawa timur dicap sebagai Orang nusantara yang paling kuat identitas Keislamannya.

Bagi orang bugis menjadikan islam sebagai Integral dan esensial dari adat istiadat budaya mereka. Meskipun demikian pada saat yang sama berbagai kepercayaan peninggalan pra-islam tetap mereka pertahankan sampai abad ke 20 salah satu peninggalan dari jaman pra islam itu yang mungkin paling menarik adalah Tradisi Para Bissu (Pendeta Waria).

Bagi suku-suku lain disekitarnya orang bugis dikenal sebagai orang yang berkarakter keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Bila perlu demi kehormatan mereka orang bugis bersedia melakukan tindak kekerasan walaupun nyawa taruhannya. Namun demikian dibalik sifat keras tersebut orang bugis juga dikenal sebagai orang yang ramah dan sangat menghargai orang lain serta sangat tinggi rasa kesetiakawanannya.

Orang eropa yang pertama kali menginjakkan kaki di tanah bugis adalah orang Potugis. Para pedagang eropa itu mula-mula mendarat dipesisir barat sulawesi selatan pada tahun 1530. akan tetapi pedangan portugis yang berpangkalan dimalaka baru menjalin hubungan kerjasama dalam bidang perdagangan secara teratur pada tahun 1559

ASAL USUL ORANG BUGIS
Asal usul orang bugis hingga kini masih tidak jelas dan tidak pasti berbeda dengan wilayah Indonesia. Bagian barat Sulawesi selatan tidak memiliki monument (hindu atau budha) atau prasasti baik itu dari batu maupun dari logam, yang memungkinkan dibuatnya suatu kerangka acuan yang cukup memadai untuk menelusuri sejarah orang bugis Sejak abad sebelum masehi hingga kemasa ketika sumber-sumber tertulis barat cukup banyak tersedia. Sumber tertulis setempat yang dapat diandalkan hanya berisi informasi abad ke 15 dan sesudahnya,

KRONIK BUGIS
Hampir semua kerajaan bugis dan seluruh daerah bawahannya hingga ketika paling bawah memiliki kronik sendiri. Mulai dari kerajaan paling besar dan berkuasa sampai dengan kerajaan paling terkecil akan tetap hanya sedikit dari kronik yang memandang seluruh wilayah di sekitarnya sebagai suatu kesatuan. Naskah itu yang dibuat baik orang makassar maupun orang bugis yang disebut lontara oleh orang bugis berisi catatan rincian mengenai silsilah keluarga bangsawan, wilayah kerajaan, catatan harian, serta berbagai macam informasi lain seperti daftar kerajaan-kerajaan atau daerah-daerah bawahan, naskah perjanjian dan jalinan kerjasama antar kerjaan dan semuanya disimpan dalam istana atau rumah para bangsawan

Lontara BugisSure Lontara Bugis Kuno
Lontara Bugis

SIKLUS LA GALIGO
La GaligoNaskah La Galigo bercerita tentang ratusan keturunan dewa yang hidup pada suatu masa selama 6 (enam) generasi turun temurun, Pada berbagai kerajaan di sulawesi selatan dan daerah pulau-pulau disekitarnya. Naskah bersyair tersebut ditulis dalam bahasa bugis kuno dengan gaya bahasa sastra tinggi. Hingga memasuki abad ke 20 Masehi naskah la galigo secara luas diyakini oleh masyarakat bugis sebagai suatu alkitab yang sacral dan tidak boleh dibaca tanpa didahului upacara ritual tertentu.

Hingga kini versi lengkap siklus la galigo belum ditemukan dari naskah-naskah yang masih ada. Banyak diantaranya hanya berisi penggalan-penggalan cerita yang dimulai dan diakhiri dengan tiba-tiba atau hanya berisi sebagian kecil dari cerita dari episode yang kadang-kadang tidak bersambung. Namun demikian banyak sastrawan bugis dan orang awam didaerah-daerah tertentu yang mengetahui sebagian besar dalam cerita siklus tersebut mereka memperolehnya dari tradisi lisan.

Siklus la galigo telah melalui proses penyusunan secara bertahap sebelum pada akhirnya menjadi sebuah karya besar. Mula-mula hanya garis besar latar dan jalan cerita saja yang diciptakan, termaksud silsilah para tokoh utamanya.

Untuk mengkaji sastra bugis itu para ilmuan beruntung dapat mengandalkan hasil jerih payah ilmuan asal belanda R.A. Kern yang menerbitkan catalog lengkap mengenai seluruh naskah la galigo yang kini tersimpan di perpustakaan-perpustakaan eropa dan perpustakaan Matthes di makassar. Dari 113 Naskah yang ada yang terdiri atas 31.500 Halaman R.A Kern Menyaring dan membuat ringkasan setebal 1356 Halaman yang merincikan Ratusan Tokoh yang terdapat dalam seluruh cerita.

La Galigo merupakan epos terbesar didunia dan epos tersebut lebih panjangan dari Epos Mahabharata. Naskah la galigo terpanjang yaitu dikarang pada pertengahan abad ke 19 atas tanggung jawab seorang perempuan raja bugis yang bernama I Colli Puji’e Arung Tanete naskah setebal 2851 Halaman polio tersebut diperkirakan mengandung sepertiga dari pokok cerita seluruhnya.

HIPOTESIS REKONSTRUKSI PRASEJARAH BUGIS
Sejak awal mungkin 50.000 tahun yang lalu sulawesi selatan sebagaimana daerah lain dipulau asia tenggara telah dihuni manusia yang sezaman dengan manusia wajak di jawa mereka mungkin tidak terlalu beda dengan penghuni Australia pada masa itu di asia tenggara, mereka mengalami proses penghalusan bentuk wajah dan tengkorak kepala meski memiliki Fenotipe Australoid.

Pada permulaan abad ke 20, penjelajah asal swiss yakni Paul Sarasin dan sepupuhnya Fritz Sarasin mengemukakan sebuah hipotesis bahwa to’ale (Manusia Penhuni hutan) sekelompok kecil manusia yang hidup diberbagai gua dipegunungan Lamocong (Bone bagian selatan) adalah keturunan langsung dari manusia penghuni gua pra sejarah dan ada hubungannya dengan manusia Veddah di srilangka

CARA HIDUP DAN KEBUDAYAAN AWAL BUGIS
Makam Raja BugisKehidupan sehari-hari orang bugis pada hamper seluruh millennium pertama masehi mungkin tidak terlalu jauh berbeda dengan cara hidup orang toraja pada permulaan abad ke 20. mereka hidup bertebaran dalam berbagai kelompok di sepanjang tepi sungai, dipinggirin danau, di pinggiran pantai dan tinggal dalam rumah-rumah panggung. Sebagai pelengkap beras dan tumbuhan lading lain. Merekapun menangkap ikan dan mengumpulkan kerang. Orang bugis dikenal sebagai pelauk ulung dengan menggunakan Phinisi mereka mengarungi samudra dengan gagah beraninya disamping itu pula orang bugis sangat pandai dalam bertani dan berladang. Bertenun kain adalah salah satu keterampilan nenek moyang orang bugis.

Orang bugis pada masa awal itu kemungkinan besar juga mengayau kepala untuk dipersembahkan acara ritual pertanian dan kesuburan tanah. Pada umumnya orang bugis mengubur mayat-mayat yang sudah meninggal, meski ada pula mayat yang di benamkan (danau atau laut) atau disimpan di pepohonan. Situs-situs megalitikum yang pernah nenek moyang mereka mungkin merupakan saksi kegiatan penguburan ganda atau penguburan sekunder. Kepercayaan mereka masih berupa penyembahan arwah leluhur. Terhadap para arwah itu sesajen-sesajen dipersembahkan lewat perantara dukun.

BUDAYA BENDAWI
Pakaian
Pakain adat BugisPengantin BugisGambaran tentang tokoh-tokoh dalam La galigo dapat diperoleh dengan melihat pakaian yang dikenakan Pengantin Bangsawan tinggi masa itu, yang selalu meniru-niru adapt kebiasaan masa lalu pria dan wanita mengenakan sarung hingga mata kaki (sampu’ ,yang dinamakan unrai bagi perempuan), menyerupai awi’ yang kini digunakan pengantin laki-laki. Pada perempuan sarung tersebut dililit dengan sebuah ikat pinggan logam. Sedangkan pada pria, sarung di lilit dengan sabuk tenunan dan diselipkan sebuah senjata tajam atau badik (gajang)

Rumah Adat
Rumah adat BugisBaik para bangsawan dan rakyat biasa tinggal dirumah panggung, namun istana (langkana atau sao kuta bagi dewa-dewa) sama dengan rumah biasa, namun ukuranya lebih besar dengan panjang sekurang-kurang nya 12 Tiang dan lebar 9 Tiang. Rumah tersebut memiliki tanda khusus untuk menunjukkan derajat penghuninya.

Tarian Dan Hiburan Rakyat
Tarian BugisTarian adat bugisTarian yang sering digunakan untuk menjamu tamu kadang-kadang menarikan tari “maluku” (sere maloku) . namun tidak disebutkan adanya pembacaan naskah secara berirama (ma’sure’selleng) yang sangat popular dilakukan pada acara-acara seperti itu di lingkungan bangsawan hingga abad ke 20.

Hiburan utama adalah sabung ayam atau adu perkelahian ayam (ma’saung) hamper disetiap istana dibawah pohon cempa (ri awa cempa) berdiri gelanggang atau arena sabung ayam ber atap tapi tidak berdinding.

Hiburan rakyat lainnya adalah “raga” sebuah permainan kaum pria dalam suatu lingkaran yang memainkan bola rotan anyaman yang menyerupai bola takraw. Bola tersebut tidak dibolehkan menyentuh tanah atau tersentuh tangan. Pemenangnya adalah pemain yang paling lama memainkan bola dengan kaki atau badannya (selain tangan) dan dapat menendang bolanya paling tinggi ke udarah.

PERANG
Boleh dikatankan perang dalam taraf tertentu merupakan hiburan bagi kaum lelaki. Juga merupakan medan untuk menguji kejantanan para pemberani (to warani). Alat yang digunakan dalam peperangan adalah Sumpit (seppu’) dengan anak panah beracun, Tombak (bessi), pedang pendek (alameng), senjata penikam atau badik (gajang)

Alat Perang Bugis
Perlengkapan Perang Orang Bugis

MASYARAKAT LA GALIGO
Masyarakat yang digambarkan dalam epos La Galigo tampak sangat hirarkis. Datu, sang penguasa orang yang paling terkemuka dalam kerajaan. Dialah yang menjaga keseimbangan lingkungan , baik itu lingkungan alam maupun lingkungan social, dan merupakan pewaris keturunan dewa dimuka bumi.

Sebenarnya bukan hanya datu tetapi seluruh bangsawan dalam tingkatan tertentu ikut memegang status keramat, karena mereka semua dianggap sebagai keturunan dewata. Mereka semua dipercaya memiliki darah putih (dara takku). Dalam dunia bugis kuno kalangan biasa yang berdarah merah dipandang memiliki perbedaan Fundamental dari bangsawan berdarah putih yang membawa esensi kedewataan kemuka bumi.

Referensi Buku : Manusia Bugis
Catatan : Hanya satu yang tidak terdapat dalam manusia bugis yaitu “Orang Bugis adalah pelaut Ulung” yang dimana pada buku manusia bugis membantah bahwa itu adalah kepercayaan yang salah buat orang bugis. Tapi saya pribadi yang menulis Bugis-Ku akan tetap mempercayai bahwa Nenek Monyang Orang Bugis adalah Pelaut Ulung

" SELAMAT HARI GURU "

" SELAMAT HARI GURU " !!! PENGORBANAN DIDALAM MENDIDIK ANAK BANGSA SEHINGGA BERJAYA AMATLAH DI HARGAI. TANPAMU, MASYARAKAT AKAN BUTA ILMU. TERIMA KASIH KEPADA SEMUA GURU2 SEDUNIA..."SELAMAT HARI GURU"

" SELAMAT HARI IBU "

UNTUK SEMUA IBU2 SE DUNIA. PENGORBANANMU TIADA BANDINGAN NILAI. HANYA ALLAH SAHAJA DAPAT MEMBALASNYA.
" SELAMAT HARI IBU

AJK PARIMBUNIS 2011/2012

PENASIHAT:
HJ KASSIM AHMAD

PENGERUSI:
HJ AMIR MAJID

NAIB PENGERUSI:
NUR EHSANUDDIN RASHID

SETIAUSAHA:
HJ ROZI YUSOF

BENDAHARI:
HJ AZMAN MAJID

AHLI JAWATANKUASA:

ZAITON YAACOB

ZAINAH YAACOB

HJ ISMAIL MD NOH

HJ YASIN ISMAIL

MINHAD ANI

ABDULLAH SEMAN

HJ ABD LAH @ ABDULLAH HJ AWANG

HJ NOH IBRAHIM

JURUODIT:

JUNAIDAH ALMANSOR

KAMAL HJ KASSIM.

BLOG PARIMBUNIS

BLOG INI ADALAH DIKHASKAN UNTUK AHLI KELUARGA PARIMBUNIS, BERINTERAKSI DAN MENYALUR MAKLUMAT SEMASA, SEMUGA DAPAT MENGERATKAN HUBUNGAN SIRATULRAHIM.

Bercakap-cakaP


ShoutMix chat widget

AsmauL Husna

Jutawan Emas

Click here ContacT me!! Dealer: Abdullah Johor Bahru, Johor. En. Abd.Lah @ Abdullah Bin Awang Mobile: 016-716 6515 Email: q_eyda@yahoo.com.sg

PengunjunG

blogspot hit counter

Follow me