KELUARGA PAJAR, PARIMBUNIS

PERSATUAN KELUARGA BESAR KETURUNAN RAJA ALI RAJA JAAFAR (YDM RIAU VIII) DAN ENGKU CHIK TEMENGGUNG ABDUL RAHMAN

Memutuskan Hubungan Kekeluargaan

Memutuskan Hubungan Kekeluargaan

Manusia takkan mencapai kehidupan tenteram tanpa pergaulan di dalam suatu kelompok tertentu yang mengikat dirinya dengan hak-hak dan berbagai kewajiban di dalam kelompok tersebut. Sebab, andaikata kehidupan seorang manusia itu tanpa mengelompokkan diri pada suatu kelompok tertentu, maka ia bagai kambing yang memisahkan diri dari “regunya”. Ia akan merana dan hidup sengsara.

Yang dimaksud dengan kelompok di sini adalah hubungan dalam bentuk kekeluargaan. Keluarga adalah bagian dari masyarakat yang merupakan sumber kebahagiaan bagi masyarakat itu sendiri. Dengan melalui hubungan kekeluargaan, seseorang bisa memperoleh hak-haknya yang patut dikabulkan. Selain itu ia akan merasa tenteram dan aman di bawah naungannya. Karenanya, Islam mengajarkan agar para pemeluknya selalu berpegang pada tata hubungan kekeluargaan ini dan mendahulukan kepentingannya ketimbang kepentingan lainnya. Di lain pihak Islam juga mengancam orang-orang yang memutuskan hubungan ini, dan akan mendapatkan siksa yang pedih. Sebab, perbuatan tersebut merupakan tindakan dosa.

Di dalam Islam, kekeluargaan mempunyai dua kata sinonim. Terkadang diistilahkan dengan arham (famili), dan terkadang dengan istilah dzawi’l-qurba (kerabat terdekat).

Di dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan pengertian dzawi’l-qurba ialah : “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan”. (Q.S. 17 : 28).

Di dalam ayat lain Allah berfirman : “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah : ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. (Q.S. 2 : 215).

Al-Qur’an juga memberikan prioritas tinggi terhadap kerabat dekat untuk menerima perhatian (kebaikan) dan diutamakan kepentingannya lebih daripada lainnya.

Di dalam Al-Qur’an dikatakan mengenai al-arham : “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lainnya dan (peliharalah) hubungan silaturahmi”. (Q.S. 4 : 1).

Ayat tersebut memerintahkan kepada kita agar bertakwa kepada Allah atau melaksanakan segara perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Setelah itu Allah memerintahkan menyambung hubungan silaturahmi dan memenuhi hak-haknya, serta jangan memutuskan hubungan tersebut.

Di dalam hal ini Allah berfirman yang melarang pemutusan hubungan silaturahmi : “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”. (Q.S. 47 : 22-23).

Sehubungan dengan pengertian ayat tersebut, Rasulullah bersabda :

الرّحم معلّقة بالعرش تقول: من وصلني وصله الله ومن قطعي قطعه الله رواه البخارى ومسلم

“Silaturahmi digantungkan di atas ‘Arasy (Menyambung persaudaraan dengan orang-orang yang masih ada hubungan famili, baik yang muhrim ataupun bukan. Caranya ialah dengan memberikan pertolongan baik berupa material ataupun moril. Dan menurut pengertian secara globalnya ialah menolong orang yang masih ada hubungan famili menurut kemampuan yang ada.) , ia berkata : Barang siapa menyambungkan hubungannya, maka Allah akan menyambungkannya, dan barang siapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskan hubungan silaturahmi dari ‘Arasy (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.)”.

Rasulullah juga pernah bersabda :

مامن ذنب اججدر ان يعجّل الله لصاحبه العقوبة فى الدّنيا مع ما يدخّرله فى الاخرة من: البغي وقطيعة الرّحم. رواه البخارى والترمذى وابن ماجه

“Tak ada suatu perbuatan dosa apapun yang lebih berhak disegerakan hukumannya oleh Allah di dunia ini, di samping yang akan diterimanya di akherat, selain daripada perbuatan zina dan memutuskan hubungan kekeluargaan” (Hadits riwayat Bukhari, Turmudzi dan Ibnu Majjah.).

Sabda Nabi yang lain :

لايدخل الجنّة قاطع رحم (رواه مسلم)

“Takkan bisa masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan (silaturahmi)” (Hadits riwayat Muslim.).

Rasulullah juga menganjurkan kepada umatnya agar mempererat hubungan silaturahmmi :

من كان يؤمن با لله واليوم الاخر فليكرم ضيفه، ومن كان يؤمن با لله واليو الاخر فليصل رحمه، ومن كان يؤمن با لله واليوم الاخر فليقل خيرا أوليصمت (رواه البخاري ومسلم)

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormatilah tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka sambunglah hubungan silaturahmi. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Rasulullah juga menerangkan dampak positif bagi orang yang melakukan hubungan silaturahmi :

من أحبّ ان يبسط له فى رزقه، وينسأله فى اثره فليصل رحمه (رواه البخارى ومسلم)

“Barang siapa yang ingin agar rezkinya diperbanyak dan umurnya diperpanjang, maka sambunglah pertalian silaturahmi” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Hikmah yang terkandung di dalam pelaksanaan silaturahmi, atau kenapa Islam mementingkan masalah ini karena adanya faktor penting, yaitu faktor kejiwaan. Dari sini seorang akan mengharapkan kebaikan bagi kerabatnya sendiri. Dan apabila tidak demikian, maka perbuatannya termasuk berdosa.

Seorang kaya, apabila tidak bersedia menyantuni kaum miskin yang bukan keluarganya, maka kemarahan si miskin tersebut tidak akan seberapa dibandingkan dengan apabila si miskin tersebut ternyata keluarganya sendiri.

Pada jaman dahulu ada seorang penyair yang mengatakan :

وظلم ذوى القربى أشدّ مضاضة على النّفس من وقع الحسّام المهنّد.

“Perbuatan aniaya dari kerabat sendiri lebih pedih dirasakan oleh hati daripada bacokan pedang yang tajam”.

Perbuatan aniaya yang dilakukan kerabatnya sendiri akan menyebabkan berkobarnya rasa dengki dan iri hati. Sebab, biasanya kaum kerabat akan lebih mengetahui rahasia kerabatnya sendiri. Dan jika salah satu kerabat sudah terjangkit penyakit ini, maka dengan mudah akan membalas sakit hatinya kepada famili yang berbuat menyakitkan.

Islam bertujuan membangun masyarakat yang penuh rasa kasih sayang dan saling menolong. Karenanya, Islam telah menentukan orang-orang yang paling berhak, yaitu kerabat. Di dalam hukum waris, Islam telah menentukan tinggalan mayit sebagai harta waris yang diberikan kepada kaum kerabat, sesuai dengan urutan dekat-tidaknya ahli waris dengan mayit.

Allah berfirman : “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan”. (Q.S. 4 : 7).

Dan sebagai bukti yang kuat bahwa Islam memperhatikan terhadap masalah kekeluargaan ialah, Islam mewajibkan kepada orang-orang yang mampu agar memberikan nafkah kepada orang-orang tidak mampu dari kerabatnya sendiri, baik anak, cucu; ayah atau kakek dan lain sebagainya.

Imam Ahmad Ibnu Hanbal mengatakan bahwa wajib memberi nafkah kepada ahli waris yang miskin. Hal ini telah ditetapkan oleh Al-Qur’an, yang pengertiannya mencakup wajib memberi nafkah kepada ayah, dan wajib pula bagi seorang membayar upah penyusuan dan pemeliharaan anak.

Allah berfirman : “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah kar

SILATURRAHIM

SILATURRAHIM
                   
Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Ayyub r.a. berkata: "Seorang Badwi  menhadang Nabi Muhammad s.a.w. dan memegang kendali untanya lalu berkata: "Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku apakah yang dapat mendekatkan aku kesyurga dan menjauhkan diriku dari api neraka?" Jawab Baginda s.a.w.: "menyembah Allah s.w.t. dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun dan mendirikan sembahyang dan mengeluarkan zakat dan menghubungi kerabat."
                        
Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Abi Aufa r.a. berkata: "Pada suatu waktu petang hari Arafah kami bersama  Baginda s.a.w. tiba-tiba  Baginda s.a.w. bersabda: "Jangan duduk bersama kami siapa yang memutuskan hubungan kekeluargaan, supaya bangun dari tengah-tengah kami." Maka tidak ada orang kecuali seorang dibelakang Baginda s.a.w. sendiri, tetapi tidak lama ia kembali maka ditanya oleh Baginda s.a.w.: "Mengapakah engkau , sebab tidak ada orang yang bangun kecuali engkau?" Jawabnya: "Ya Rasulullah, ketika saya mendengar sabdamu itu, segera saya pergi kerumah makcikku yang memutuskan hubungan dengan aku, lalu dia bertanya: Mengapa kau datang, ganjil sekali kedatangan mu ini?" Maka saya beritahukan apa yang saya dengar daripadamu, maka ia membaca istighfar untuk ku dan aku juga membaca istighfar untuknya." Baginda s.a.w. bersabda: "Bagus engkau, duduklah sekarang sebab rahmat tidak akan turun pada suatu kaum jika ada diantara mereka seorang yang memutuskan hubungan kekeluargaan."
                        
Abul Laits berkata: "Hadis ini sebagai dalil bahawa memutuskan hubungan kekeluargaan itu dosa besar sebab dapat menolak rahmat baginya dan bagi kawan-kawan yang duduk bersamanya, kerana itu maka kewajipan kita tiap muslim harus bertaubat dari pemutusan terhadap kekeluargaan dan istighfar minta ampun kepada Allah s.w.t. dan segera menghubungi keluarga untuk mencari rahmat Allah s.w.t. dan menjauhkan diri dari api neraka."
                        
Baginda s.a.w. bersabda: "Tidak ada perbuatan hasanah yang lebih cepat pahalanya daripada menghubungi keluarga dan tiada dosa yang layak disegerakan pembalasannya didunia diamping siksanya kelak diakhirat seperti putus hubungan kekeluargaan dan berlaku zalim aniaya."
                       
 Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Amr bin Al'ash r.a. berkata: "Seorang datang kepada Baginda s.a.w. dan berkata: "Ya Rasulullah, saya mempunyai keluarga yang saya hubungi tetapi mereka memutuskan hubungan kepadaku. Saya baik kepada mereka tetapi mereka zalim kepadaku dan saya tolong membantu mereka dan mereka berbuat jahat kepadaku, apakah boleh saya membalas perbuatan mereka dengan perbuatan yang sama?" Jawab Baginda s.a.w.: "Tidak, sebab jika kamu membalas mereka, maka sama dengan mereka, tetapi hendaknya engkau tetap mengambil cara yang lebih baik dan tetap menghubungi mereka, maka selalu engkau akan mendapat bantuan dari Allah s.w.t. selama engkau berbuat demikian."
                        
Tiga macam dari akhlak orang ahli syurga, tidak terdapat kecuali pada orang yang baik, pemurah hati iaitu:
  • Berbuat baik kepada orang berbuat jahat kepadanya
  • Memaafkan orang yang zalim kepadanya
  • dan loman kepada orang yang bakhil kepadanya
                      
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Adhdhahaak bin Muzakim ketika menafsirkan ayat yang berbunyi: "Yamhu Allahu maa yasya'u wayuts bitu." (Tafsirannya) "Sesungguhnya seorang itu adakalanya menyambung kekeluargaannya padahal umurnya sudah tinggal tiga hari, tiba-tiba Allah s.w.t. menambah umurnya hingga tiga puluh tahun, dan adakalanya ia memutuskan hubungan kekeluargaan sedang umurnya masih sisa tiga puluh tahun, maka dipotong oleh Allah s.w.t. menjadi hanya tiga hari."
                       
Tsauban r.a berkata Baginda s.a.w. bersabda: "Tidak dapat menolak takdir kecuali doa dan tidak dapat menambah umur kecuali amal kebaikan (taat) dan adakalanya seseorang itu tidak mendapat rezeki kerana berbuat dosa."
                        
Ibn Umar r.a. berkata: "Siapa yang takwa kepada Tuhan dan menghubungi keluarganya maka akan ditambah umurnya dan diperbanyak harta kekayaannya dan disayang oleh keluarganya."
                        
Abul Laits berkata: "Erti bertambah umur itu terdapat dua macam. Sebahagian ulama berpendapat bertambah kebaikannya dan ada juga yang mengertikan bertambah umur sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda s.a.w. Ada pula yang berpendapat tidak dapat ditambah sebagaimana firman Allah s.w.t.(Yang berbunyi): "Idza jaa'a ajalluhum la yasta khiruna sa'atan wala yastakdimun." (Yang bermaksud): "Jika telah tiba ajal mereka maka tidak dapat diunsirkan (ditunda) sesaat dan tidak dapat dimajukan." Tetapi erti bertambah umur iaitu dicatat terus pahalanya sesudah matinya, maka tercatatnya pahala sesudah mati itu sama dengan bertambah umur."
                        
Said meriwayatkan dari Qatadah berkata Baginda s.a.w. bersabda: "Bertakwa kamu kepada Allah s.w.t. dan menghubungi keluargamu sebab yang sedemikian itu baik untukmu diakhirat dan lebih tetap bagimu didunia." Ada keretangan: "Jika kau mempunyai kerabat lalu tidak pergi kepadanya dengan kakimu dan tidak kau bantu dengan hartamu bereti telah kau putus hubungannya."
                        
Didalam Shuhuf ada tersebut: "Hai anak Adam, hubungilah kerabatmu dengan membantunya dengan hartamu dan jika kau bakhil dengan hartamu atau sedikit hartamu maka berjalan kepadanya dengan kakimu." Baginda s.a.w. bersabda: "Hubungilah kerabatmu walau hanya dengan memberi salam kepadanya."
                        
Maimun bin Mahran berkata: "Tiga macam yang tidak dibezakan simuslim dengan kafir iaitu:
  • Siapa yang berjanji kepadanya maka harus ditepati baik kepada muslim atau kafir
  • Dan kepada keluargamu harus kau hubungi baik ia muslim atau kafir
  • dan siapa memberi amanat kepadamu harus kau kembalikan kepadanya baik ia muslim atau kafir

                  Ka'bul- Ahbaar berkata: "Demi Allah yang membelah laut untuk Musa a.s. dan Bani Israil, tertulis didalam kitab Taurat: "Takutlah kepada Tuhanmu dan berbaktilah kepada ibu bapamu dan sambunglah hubungan kerabatmu, nescaya Aku tambah umurmu dan Aku mudahkan kekayaanmu, dan Aku jauhkan kesukaranmu."
                        
Dan Allah s.w.t. menyuruh bersilaturrahim dalam beberapa ayat al-Quran yang berbunyi: "Wattaqu Allahal ladzi tasa'aluna bihi wal arham. (Yang bermaksud): "Dan takutlah kamu pada Allah yang dalam semua hajatmu kamu minta padaNya dan jagalah hubungan kerabatmu. Dan jangan kamu putuskan hubungan dengan mereka." Ayat yang lain pula berbunyi: "Wa ati dzai qurba haqqahu." (Yang bermaksud): "Laksanakan kewajipanmu terhadap kerabat." Didalam ayat yang lain pula berbunyi: "Inna Allaha ya'muru bil adli ihsani wa ieta'i dzil qurba." (Yang bermaksud): "Sungguh Allah menyuruh kamu berlaku adil (beriman kepada Allah s.w.t.) dan berlaku baik terhadap sesama makhluk dan menyambung hubungan kerabat." Ayat yang lain pula berbunyi: Wa yanha anil fah sya'i walmunkari wal bagh yi." (Yang bermaksud): "Dan melarang perbuatan-perbuatan dosa (yang keji) dan mungkar dan penganiayaan." Ayat yang lain pula berbunyi: "Ya'idhukum la'allakum tadzakkarun." (Yang bermaksud): "Allah menasihatkan padamu supaya kamu sedar."
                        
Usman bin Madh'uun r.a. berkata "Baginda s.a.w. sebagai sahabat karib kepadaku, kerana itu pertama aku masuk Islam hanya kerana malu kepadanya sebab ia selalu menganjurkan kepadaku supaya masuk Islam, maka aku masuk Islam tetapi hatiku belum mantap kepada Islam. Tiba-tiba pada suatu hari saya duduk dengannya, tiba-tiba ia mengaibkan aku seolah-olah ia berbicara dengan orang yang disampingnya, kemudian ia menghadap kembali kepadaku sambil bersabda: "Malaikat Jibril telah datang kepadaku membawa ayat (Yang berbunyi): "Innallah ya'muru bil'adili wal insani wa ita'i dzil qurba." (Yang bermaksud): "Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil (beriman kepada Allah s.w.t) dan berbuat baik dan mengertikan kewajipan terhadap kerabat.", maka saya merasa sangat gembira dan mulai meresap iman dalam dadaku, maka aku bangun pergi kepada Abu Thalib dan saya berutahu bahawa saya tadi duduk dengan anak saudaranya, tiba-tiba ia dituruni ayat tersebut. Abi Thalib berkata: "Ikutlah Muhammad, nescaya kamu untung dan terpimpin, demi Allah anak saudaraku itu hanya menganjurkan kepada akhlak dan budi yang baik, jika ia benar atau dusta, maka ia tidak mengajak kamu kecuali kepada kebaikan." Ketika Baginda s.a.w. mendengar suara Abu Thalib sedemikian maka ia ingin kalau-kalau ia masuk Islam, maka diajaknya masuk Islam tetapi Abu Thalib menolak, maka turunlah ayat yang berbunyi: "Innaka la tahdi man ahbabta wala kinnallaha yahdi man yasya'u." (Yang bermaksud): "Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada siapa yang kamu sayangi tetapi Allah memberi hidayah pada siapa yang Dia kehendaki."
                        
Dan dalam yang berbunyi: "Fahal asaitum in tawallaitum an tufsidu fil ardhi wa tuqath thi'uu arhamaakum. Ulaikalladzina la 'anahumullahu fa ashammahun wa a'ma absharahum." (Yang bermaksud): "Apakah ada kemungkinan jika kamu telah menjadi wali (pemimpin) diatas bumi ini lalu kamu merosak dan memutuskan hubungan kerabat. Mereka yang berbuat demikian itu, orang-orang yang dikutuk oleh Allah sehingga dipekakkan telinga mereka dan dibutakan mata mereka." (Surah Muhammad ayat 22-23)
                         
Allah s.w.t. telah berfirman kepada rahim: "Akulah Arrahman dan engkau rahim, Aku akan memutuskan rahmatKu terhadap orang yang memutuskan hubungan dan Aku akan menyambungkan rahmatKu kepada orang yang menghubungimu."
                        
Rahim itu bergantung dengan arsy berdoa siang malam: "Ya Robbi, sambunglah hubungan orang yang menghubungiku dan outuskan hubungan orang yang memutuskan hubungan dengan aku."
                        
Alhasan Albashri berkata: "Jika manusia telah telah menonjolkan ilmunya dan mengabaikan amal perbuatannya dan kasih sayang hanya dengan lidah, sedangkan dalam hati mereka penuh rasa benci dan memutuskan hubungan kekeluargaan, maka mereka akan terkutuk (dilaknat) oleh Allah s.w.t. maka dipekakkan dan dibutakan mata hati mereka."
                        
Abul-laits meriwayatkan dengan sandanya dari Yahya bin Salim berkata: "Dahulu  di Mekkah ini ada orang berasal dari Khurasan, seorang soleh dan orang-orang biasa menitipkan segala harta mereka kepadanya. Maka ada seorang menitipkan kepadanya wang sebanyak sepuluh ribu dinar, lalu ia pergi untuk kepentingannya, kemudian orang itu kembali ke Mekkah sedang orang yang dititipi itu telah mati, maka ia bertanya kepada keluarga dan anak-anaknya tentang harta titipannya itu. Dijawab: "Kami tidak mengetahui apa-apa seba dia tidak memberitahu apa-apa kepada kami." Lalu orang itu bertanya kepada ulama-ulama Fuqaha' yang banayk sekali diMekkah. "Saya titip kepada ...(Fulan) sepuluh ribu dinar dan kini orang itu telah mati dan saya bertanya kepada keluarga dan anak-anaknya, mereka menjawab tidak mengetahui hal keadaan ini, maka bagaimanakah pendapatmu?" Jawab para ulama yang ditanya itu: "Kami mengharap semoga orang itu min ahlil jannah, nanti malam jika lewat tengah malam, maka pergilah engkau kezamzam dan panggillah namanya didalam perigi zamzam itu dan katakan: "Ya Fulan bin Fulan, saya yang titip kepadamu dahulu itu."
                        
Maka dilaksanakan nasihat itu dan dipanggil nama orang itu sampai tiga kali, tetapi tidak ada jawapan. Maka ia kembali kepada para ulama yang memberitahu kepadanya. Mereka berkata: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, kami khuatir kalau-kalau kawan mu itu ahli neraka, sekarang kau pergi keYaman dan pergi keBirhut, disana ada perigi, jika lewat tengah malam kau panggil: "Ya Fulan bin Fulan, saya yang titip wang kepadamu dahulu itu." dan ketika ia memanggil sekali sahaja telah mendapat jawapan. Lalu ditanya: "Kasihan kau, mengapakah kau disini, padahal dahulu kau orang yang baik?" Jawabnya: "Saya mempunyai keluarga diKhurasan, maka saya putuskan hubungan dengan mereka sehingga mati, maka Allah s.w.t. menuntut aku dengan ini dan menempatkan diriku disini, adapun hartamu masih tetap ada  dan saya tidak mempercayakan harta kepada sesiapapun walau terhadap anak-anak saya, harta itu saya tanam dirumah, maka kau minta izin kepada anakku untuk masuk rumahku, kemudian kau masuk dan galilah ditempat yang saya tunjuk itu, nescaya kau akan mendapat hartamu masih cukup." Maka segera ia kembali dan minta izin kepada anak-anaknya untuk menggali tempat yang ditunjuk itu, maka benar bahawa hartanya masih utuh semuanya.
                        
Abul Laits berkata: "Jika seorang itu dekat dengan kerabatnya maka hubungan kerabat itu berupa hidayah-hidayah dan ziyarah, jika tidak dapat membantu dengan harta, maka cukup dengan tenaga, jika jauh maka hubunginya dengan surat menyurat dan jika dapat mendatangi maka itu lebih utama. Ketahuilah bahawa silaturrahim itu mengandungi sepuluh keuntungan iaitu:
  • Mendapat keridhoan Allah s.w.t. sebab Allah s.w.t. menyuruh silaturrahim
  • Menggembirakan mereka kerana ada hadis yang mengatakan bahawa seutama-utama amal ialah menyenangkan orang mikmin
  • Kegembiraan malaikat kerana malaikat senang dengan silaturrahim
  • Mendapat pujian kaum muslimin
  • Menjengkelkan iblis laknatullah
  • Menambah umur
  • Menjadi berkat rezekinya
  • Menyenangkan orang-orang yang telah mati kerana ayah dan nenek-nenek itu senang jika anak cucunya bersilaturrahim
  • Memupuk rasa cinta dikalangan kekeluargaan sehingga suka membantu bila memerlukan bantuan mereka
  • Bertambahnya pahala jika ia mati sebab selalu diingati kepadanya jika telah mati dan mendoakan kerana kebaikannya
                       
Anas r.a berkata: "Tiga macam orang yang akan berada dibawah naungan Allah s.w.t. pada hari kiamat iaitu:
  • Orang yang menyambung hubungan kekeluargaan diberkati umurnya dan dilapangkan kuburnya dan rezekinya
  • Wanita yang ditinggal mati oleh suaminya dan ditinggali anak-anak yatim lalu dipeliharanya sehingga kaya mereka atau mati
  • Orang yang membuat makanan lalu mengundang anak-anak yatim dan orang-orang miskin
                         
Al-Hasan berkata: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Dua langkah manusia yang disukai Allah s.w.t. ialah:
  • Langkah menuju sembahyang fardhu dan
  • Langkah menuju silaturrahim kepada kerabat yang mahram
                        
Lima macam siapa yang melaziminya bertambah hasanatnya bagaikan bukit yang besar dan dilapangkan rezekinya iaitu:
  • Siapa yang selalu sedekah sedikit atau banyak
  • Orang yang menghubungi kerabat
  • Orang yang selalu berjuang untuk menegakkan agama Allah s.w.t.
  • Orang yang selalu berwuduk dan tidak memboros penggunaan air
  • Orang yang tetap taat kepada kedua ibu bapanya

MAJLIS PERASMIAN BANGUNAN UMNO JOHOR BAHRU OLEH YAB PM (26/1/14)



























UNDANGAN MAJLIS PERASMIAN BANGUNAN UMNO JOHOR BAHRU OLEH YAB PERDANA MENTERI MALAYSIA - 26/1/2014



10 GOLONGAN MANUSIA DI USIR DARI PADANG MAHSYAR


Masjid Raya Sultan Riau Penyengat

Makam Pahlawan Melayu MP4

Mushaf Alquran Kerajaan Riau-Lingga

Mushaf Alquran Kerajaan Riau-Lingga

Mushaf Kerajaan Riau-Lingga dengan iluminasi gaya Pantai Timur Semenanjung koleksi Museum Linggam Cahaya Daik-Lingga.
F-DOK/ASWANDI SYAHRI
Aswandi Syahri
ALQURAN adalah ‘penghulu’ dari segala kitab. Oleh karena itu, selain menyimpan sejumlah manuskrip kitab sejarah, sastra, hukum, dan lain sebagainya, istana Riau-Lingga di Pulau Penyengat dan Daik-Lingga juga mempunyai beberapa buah mushaf atau naskah Alquran tulisan tangan yang indah dan penting.
Sejauh ini, seperti terungkap dalam hasil penelitian Khazanah Manuskrip Alquran di Kepulauan Riau (2012) oleh Ali Akbar dari Bayt Alquran-Jakarta, telah dapat dikenal pasti sembilan buah mushaf yang berasal dari zaman kerajaan Riau-Lingga. Tersebar di dua pusat pemerintah kerajaan di Pulau Penyengat dan Daik-Lingga.
Dua diantaranya kini berada dalam simpanan Museum Linggam Cahaya, Daik-Lingga, dan isanya menjadi koleksi Masjid Pulau Penyengat.
Lazimnya, mushaf adalah sebuah kitab Alquran yang istimewa. Ditulis dengan khat yang indah dan diberi hiasan (iluminasi) mewah, beperada air emas pada beberapa halaman dan bagian-bagian tertentu.
Dua buah mushaf yang kini berada dalam simpanan Museum Linggam Cahaya dan enam mushaf lainnya yang berada di Pulau Penyengat memperlihatkan kenyataan itu: berhiaskan iluminasi yang indah dan mewah. Sehingga benar-benar mengukuhkan kitab yang berisi kalam ilahi itu sebagai ‘penghulu’ dari segala kitab yang ada di muka bumi Allah ini.
Oleh karena itu, sebuah mushaf tak hanya berisikan teks ilahiah semata. Pada lembar-lembar halamannya juga terekam jejak-jejak seni, sejarah, dan kebudayaan yang dibawa oleh sang penyalin mushaf melalui goresan kalamnya.
Dengan bantuan ilmu sejarah dan kajian filologi yang mendalam terhadap sebuah mushaf, akan tersibak sisi-sisi sejarah dan kebudayaan yang penting dalam kaitannya dengan masyarakat dan negeri tempat mushaf tersebut berada.
Dalam kempatan ini akan diperkenal dua mushaf yang berasal dari zaman kerajaan Riau-Lingga, yang kini berada dalam simpanan Masjid Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang.
Salinan Abdulrahman Stambul
Mushaf pertama berukuran 40 x 25 cm. Ditulis di atas ketas Eropa dengan ketebalan 7 cm. Alquran bersejarah ini sangat terkenal dan dikenal luas, karena satu-satunya mushaf dari beberapa buah mushaf milik Masjid Pulau Penyengat yang dipajang sebagai ‘perhiasan’ masjid.
Alquran indah ini diletakkan di atas sebuah rehal antik berukir yang diselubungi vitrin kaca berlapis ultraviolet filter, tepat di bawah lampu Kraun hadiah Maharaja Prusia. Entah berapa ribu jamaah dan pengunjung Masjid Pulau Penyengat yang telah melihat dua halaman mushaf indah ini yang terbuka sepanjang tahun.
Sebuah caption tentang tentang mushaf ini menyebutkan ianya telah selesai disalin pada tahun 1867. Penyalinnya adalah seorang penduduk Pulau Penyengat bernama Abdulrahman. Beliau terkenal mahir dalam menulis khat yang indah, dan pernah dikirim oleh kerajaan Riau-Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu agama.
Sekembalinya dari Mesir, Abdulrahman menjadi guru di Pulau Penyengat, dan semakin terkenal dengan seni khat indahnya yang kemudian disebut ‘khat gaya Istambul’. Karena itu pula, nama Istambul (Turki) melekat dibelakang nama batang tubuhnya: Abdulrahman Stambul.
Kepiawaian Abdulrahman dalam seni khat dan kedalaman pengusaan ilmu agamanya, membuat mushaf ini istimewa. Ia banyak menggunakan huruf “Ya” busra dan beberapa rumah huruf yang titiknya sengaja disamarkan. Sehingga, ketika membacanya seseorang cenderung menggunakan interprestasi individu sesuai dengan kadar ilmu yang dikuasainya.
Goresan kalam Abdulrahman Stambul ini adalah sebuah mushaf yang indah. Berhiaskan iluminasi perada air emas, yang menurut hasil kajian Dr Annabel Teh Gallop dari British Library London, dikenal sebagai iluminasi gaya “Pantai Timur” Semenanjung.
Jejak Abdulrahman Stambul tak hanya terdapat pada salah satu mushaf indah koleksi Masjid Pulau Penyengat, tapi juga menghiasi kemegahan interior salah satu istana Sultan di Negeri Terengganu, Malaysia.
Disalin Bandar Kedah Negeri Padang Saujana
Mushaf kedua usianya jauh lebih tua, dan dihiasi dengan iluminasi yang dikenal oleh kalangan filolog sebagai gaya “Bugis” atau gaya “Sulawesi Selatan”. Mushaf yang kondisinya agak rusak karena bahan tinta yang mengandungi besi (iron gall) ini, disimpan pada salah satu almari peninggalan Kutubkhanah Marhum Ahmadi di Masjid Pulau Penyengat.
Pembacaan ulang terhadap kolofon (penjelasan oleh penyalin mushaf) yang terdapat di halaman akhir mushaf ini oleh Dr. Annabel The Gallop dari Biritis Library dan Ali Akbar dari Bayt Alquran Jakarta, telah mengoreksi banyak hal atas hasil pembacaan sebelumnya.
Mushaf ini disalin di Bandar Kedah, Negeri Padang Sirjana (Sejana atau Saujana?) pada 25 Ramadhan 1166 Hijriah bersamaan dengan 26 Juli 1753 Miladiah. Jadi, bukan disalin di Negeri Padang Saujan, Riau, seperti hasil pembacaan sebelumnya. Penyalinnya adalah Ali bin Abdullah bin Abdulrahman al-Jawi al-Buqisi yang berasal daerah bernama Tempe di Negeri Wajo, Sulawesi.
Angka tahun pada kolofon ini menunjukkan masa-masa pemerintahan Daeng Kamboja sebagai Yang Dipertuan Muda Riau II yang memerintah antara tahun 1746-1777 Miladiah. Seperti dicatat Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis, Kedah punya hubungan politik dan kerap melibatkan Upu-Upu Bugis di Riau dalam urusan politik mereka sejak masa pemerintah Daeng Marewah Yang Dipertuan I (1722-1729).
Apa rahasia disebalik nama Bandar Kedah di Tanah Semenanjung yang dicantumkan dalam kolofon sebagai nama tempat mushaf itu disalin?
Ali Akbar dari Bayt Alquran Jakarta, mengaitkannya mushaf ini dengan peristiwa penyerangan Raja Haji Engku Kelana Pangeran Sutawijaya ke Kedah. Seperti dicatat Raja Ali Haji Haji dalam Tuhfat al-Nafis, datuknya, Raja Haji Fisabilillah pernah menyerang Negeri Kedah ketika ia masih menjabat Kelana Calon Yang Dipertuan Muda pada akhir tahun 1770 atau awal 1771 Miladiah.
Peperangan itu berakhir dengan perdamaian setelah melalui mediasi oleh Raja Lumu Sultan Salehuddin Selangor. Bukan tidak mungkin mushaf tersebut adalah bagian peperangan yang berakhir dengan perdamaian yang intinya menurut Raja Ali Haji adalah “pekerjaan mufakat sama-sama Islam.”
Hasil pembacaan paling mutakhir terhadap kolofon mushaf ini adalah sebagai berikut:
Wa kana al-faragh min tahsili haza al-mushaf al-karim nahara al-Jum’at min Ramadhan fi waqti al-‘asri madat khamsa wa ‘isyruna yauman min syahri Ramadhan al-mubarak fi Bandar Kedah qaryah Padang Sirjana fi zamani Maulana Paduka Sri as-Sultan al-A’zam wa al-Khaqan wa al-A’dal al-Afkham Muhammad Jiwa Zain al-‘Adilin Mu’azzam Syah sanat 1166 alf wa mi’at wa sitt wa sittun min al-hijrat an-nabawiyyah ‘ala sahibiha afdal as-salati wa azka at-taslim bi-khatt al-faqir al-khaqir ad-da’if al-mu’tarif bi az-zanbi wa at-taqsir ar-raji ila ‘afwi rabbihi al-karim Ali bin Abdullah bin Abdurrahman al-Jawi al-Buqisi al-Wajuwi asy-Syafi’i mazhaban at-Tempe baladan wa maulidan wa watanan wa an-Naqsyabandi … … lillahi Maulana as-Sultan ‘Ala’uddin bin al-marhum upu ghafara Allahu lahum wa li-walidaihim wa li-jami’il-muslimin wal-muslimat wal-mu’minin [wa al-mu’minin] wal-mu’minat al-ahya’i minhum wal-amwat.
Oleh Ali Akbar, isi kolofon dwi-bahasa (Arab dan Melayu) ini diterjemakan sebagai berikut: “Selesai menyalin mushaf yang mulia ini siang Jumat, Ramadhan pada waktu asar, 25 bulan Ramadhan yang penuh berkah di Bandar Kedah Negeri Padang Sirjana pada zaman Maulana Paduka Sri Sultan Yang Agung, Pemimpin Yang Adil Yang Besar Muhammad Jiwa Zain al-‘Adilin Mu’azzam Syah tahun 1166 seribu seratus enam puluh enam Hijrah Nabi pemilik salawat yang utama dan salam yang suci, dengan tulisan yang fakir yang hina yang lemah yang mengakui dosanya dan kekurangannya yang mengharapkan ampunan Tuhannya Yang Mulia, Ali bin Abdullah bin Abdurrahman al-Jawi al-Buqisi al-Wajuwi, Syafi’i mazhabnya, Tempe daerahnya dan kelahirannya serta negerinya, Naqsyabandi … … Maulana Sultan ‘Ala’uddin bin al-marhum upu. semoga Allah mengampuni mereka dan orang tua mereka serta semua kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mu’minat yang masih hidup dan yang telah wafat.”
‘Silsilah’ mushaf kedua ini unik dan menarik. Terutama bila dilihat dari gaya tulisan, kehalusan iluminasi, dan gaya iluminasi-nya yang khas “Bugis” atau “Sulawesi Selatan.”
Hasil penelusuran Ali Akbar dari Baty Alquran Jakarta berhasil mengungkap sesuatu yang penting. Mushaf ini diyakini masih ‘satu keluarga dekat’ dengan empat mushaf lain, yang berada di tempat lain, yaitu: (1) Mushaf koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta nomor A.49, dengan tarikh Sya’ban 1143 Hijriah bersamaan dengan Februari/Maret 1731 Miladiah; (2) sebuah mushaf Nusantara koleksi The Aga Khan Trust di Jenewa, Swiss, bertarikh 25 Ramadan 1219 Hijriah bersamaan dengan 28 Desember 1804 Miladiah; (3) Mushaf Sultan Ternate, bertarikh 9 Zulhijah 1185 Hijriah bersamaan dengan 14 Maret 1772 Miladiah; dan (4) satu sebuah mushaf koleksi Museum Babullah, istana Kesultanan Ternate, tanpa kolofon. ***
Like · ·

RAJA AHMAD RIAU

Hanya berbagi informasi..

RAJA AHMAD RIAU
Pengasas ‘al-Ahmadiah’ di Singapura
Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH

DIRI dan jiwa mengembara dari tempat yang kecil dan terpencil ke Singapura, Johor dan Mekah akhirnya membuka usaha kemuncaknya di Singapura.
Itulah insan keturunan kaum bangsawan Riau bernama Raja Haji Ahmad bin Raja Haji Umar Tengku Endut yang diperkenalkan artikel ini. Dari tempat yang kecil sebuah pulau, iaitu Pulau Penyengat Indera Sakti, bekas pusat Kerajaan Riau-Lingga, Johor dan Pahang di sanalah Raja Ahmad dilahirkan. Dan terpencil, nun jauh di sana Pulau Midai di Laut Cina Selatan.
Ayahnya Raja Haji Umar Tengku Endut itu dalam beberapa halaman Tuhfah an-Nafis ada disebut oleh saudaranya Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad Riau pujangga Melayu yang sangat terkenal itu, namun yang saya rakamkan di sini banyak perkara yang tidak sempat ditulis oleh Raja Ali Haji.
Walau bagaimanapun tulisan ini adalah sumber yang sahih kerana banyak hal saya dengar sendiri daripada Raja Haji Ahmad dalam tahun 1950-an hingga 1960-an, termasuk juga sumber-sumber yang lain dari kerabat keluarga ini. Raja Haji Umar Tengku Endut adalah orang pertama dilantik oleh Sultan Riau menjadi Amir (Ketua Pemerintahan wakil raja) di seluruh Tokong Pulau Tujuh yang sekarang dikenali beberapa kelompok kepulauan yang terkenal.
Yang paling terkenal sekarang ialah Kepulauan Natuna. Dia terkenal kerana diketemukan minyak dan gas. Sekarang dibentuk sebuah kabupaten dinamakan Kabupaten Natuna, pusat pemerintahannya Ranai. Setelah Natuna mulai terkenal nama-nama yang dahulu terkenal seumpama Kepulauan Siantan, Kepulauan Jemaja, dan lain-lain kurang dipercakapkan orang. Kepulauan Serasan pula terletak yang paling Sararak (di bahagian utara).
Susur galur Raja Haji Ahmad dari pihak sebelah ayahnya tidak perlu saya bicarakan di sini kerana telah saya tulis sebelum ini dan mudah mendapatkannya dalam susur galur kaum raja-raja Riau-Lingga atau pun Johor atau pun Selangor. Dari pihak sebelah ibunya pula memang tidak dibiasakan orang kecuali salasilah yang ditulis oleh abang saya Muhammad Zain Abdullah. Dalam tahun 1950-an beliau bersama saya mendengar daripada Haji Wan Abu Bakar saudara sepupu Raja Haji Ahmad daripada pihak sebelah ibu.
Bahawa ibu Raja Haji Ahmad bernama Hajah Nik Wan Siti binti Nik Wan Muhammad Nara, berasal dari Natuna. Asal usul selanjutnya dari Patani dan Kelantan. Datang ke Natuna terlebih dulu dan Batu Bahara di Sumatera. Ibu Hajah Nik Wan Siti bernama Wan Qamariyah binti Encik Wan Mat Thalib, berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat.
Dalam salasilah yang saya peroleh di Pontianak menyebut Wan Qamariyah binti Encik Wan Mat Thalib bin Encik Wan Jaramat/Orang Kaya Setia Maharaja Lela Pahlawan Tambelan bin Encik Wan Umar/Megat Laksamana bin Encik Wan Utsman/Orang Kaya Megat Patan di Pahang bin Encik Wan Ahmad/Tuan Qadhi Menteri Danageraha Habung. Encik Wan Ahmad/Tuan Qadhi Menteri Danageraha Habung inilah ulama yang bersama Sultan Melaka yang hijrah ke Batu Sawar, Johor, selanjutnya ke Bintan, selanjutnya ke Minangkabau, selanjutnya ke Kampar.
Beberapa orang keturunannya berpatah balik ke Johor, Pahang dan lainnya, ramai yang menjadi pembesar. Keturunan beliau juga menjadi pembesar-pembesar dalam beberapa kerajaan Melayu, termasuk Pontianak dan Cam yang menyatu dengan keturunan yang berasal dari Patani.
Hendaklah dikenalpasti bahawa dalam sejarah Riau terdapat dua orang tokoh yang bernama Raja Ahmad. Seorang adalah anak Raja Haji asy-Syahidu fi Sabillilah, dan seorang lagi ialah cicitnya. Cicit Raja Haji adalah Raja Haji Ahmad yang pertama. Peranan kedua-dua tokoh itu sama penting, namun Raja Haji Ahmad bin Raja Haji Umar Tengku Endut tidak dibicarakan dalam Tuhfat an-Nafis, salasilah Melayu dan Bugis dan sejarah-sejarah Riau lainnya.
Hal tersebut disebabkan sewaktu Raja Ali Haji (saudara kandung Tengku Endut) mengarang pelbagai karyanya, Raja Haji Ahmad bin Tengku Endut masih kecil.
Raja Haji Ahmad yang pertama digelar orang Engku Haji Tua. Daripada khazanah peninggalan keturunan beliau ada dicatatkan bahawa Raja Haji Ahmad ketika mudanya amat gemar memancing ikan di laut. “Pada suatu masa Raja Haji Ahmad sedang memancing di laut ... (tak dapat dibaca) berdekatan dengan sebuah pulau, di depan muka selat Tiong, maka datanglah sebuah kapal kepunyaan orang barat. Tiba-tiba dilanggarnya sampan Raja Ahmad sampai karam. Sebaliknya pada waktu itu Raja Ahmad dapat berpegang pada kapal orang barat itu, lalu naik ke atas kapal tersebut. Lalu dihamuknya segala orang dalam kapal itu sehingga habis.”
Setelah orang-orang kapal itu mati maka Raja Ahmad susah pula bagaimana akan membawa kapal itu masuk ke Tanjung Pinang sedangkan kapal itu sangat besar, tentu tidak dapat dikayuhkan. Sedangkan dia hanya seorang diri. Pada waktu itu terbit fikirannya, “Baik aku tunda saja kapal ini dengan sampanku supaya dapat aku bawa masuk ke Tanjung Pinang.” Maka Raja Ahmad turun ke sampannya. Lalu dikayuhnya masuk ke selat Tiong sampai ke Pulau Bayan ... " Selanjutnya diceritakan dari kisah di atas tergubahlah seuntai pantun:
Anak ulat di buku kayu,
Anak Belanda main teropong,
Besar daulat Raja Melayu,
Kapal ditunda dengan jongkong.
Pencetus usaha
Raja Haji Ahmad Muda adalah cucu Raja Haji Ahmad Engku Tua setelah memperhatikan banyak kegoncangan dalam pemerintahan Riau-Lingga, telah menghadap Sultan Abdur Rahman Mu'azzam Syah. Kata beliau kepada sultan, “Pada pandangan patik di belakang hari kaum kita akan disingkirkan Belanda. Kita akan papa kedana.
Akibat papa kedana kaum kita Melayu boleh menukar agama daripada Islam kepada agama Serani. (Maksudnya Nasrani atau Kristian). Patik mohon keizinan Paduka untuk membangun satu syarikat perniagaan.” Titah baginda Sultan Abdur Rahman, “Bagaimana yang elok menurut engkau perbuatlah ! Aku sangat-sangatlah bersetuju.” (Ucapan Raja Haji Ahmad tahun 1961 di rumahnya Istana Laut, Pulau Penyengat).
Setelah mendapat persetujuan daripada Sultan Abdur Rahman Mu'azzam Syah, maka Raja Haji Ahmad memanggil kaum intelektual kerajaan Riau bermusyawarat. Di antaranya ialah Raja Ali bin Raja Muhammad Tengku Nong, Raja Haji Idris bin Tengku Endut, Raja Haji Ja'afar bin Tengku Endut dan Raja Haji Muhammad bin Raja Ali. Dari situ mereka bersepakat untuk mendirikan sebuah perniagaan untuk mempertinggikan imej orang Melayu Islam terutama kerabat mereka. Sebagai langkah awal mereka membuka tanah perkebunan.
Oleh sebab tanah-tanah di sekitar Pulau Bintan kurang subur untuk perkebunan, selain tanah-tanah itu telah dikuasai oleh tauke-tauke bangsa Cina, Raja Haji Ahmad terpaksa mengarahkan tumpuan ke pulau-pulau yang masih kosong. Pulau-pulau tersebut ialah di kawasan Tukong Pulau Tujuh. Dengan sebuah perahu layar dia menuju ke Pulau Midai kerana di sana telah ada wakil sultan sejak tahun 1302 H/1883 M. Kebetulan pula wakil itu adalah saudara kandungnya, iaitu Raja Haji Ilyas bin Tengku Endut.
Dari Pulau Midai yang kecil terpencil di Laut Cina Selatan itu bermulalah segala kegiatan Syarkah Ahmadi Midai. Dari situ sebuah cawangan dibuka di Singapura, iaitu Mathba'ah Al-Ahmadiah atau Al-Ahmadiah Press 101 Jalan Sultan Singapura 7. Sejarah berdirinya Syarkah Ahmadi & Co. Midai dan cawangan Al-Ahmadiah Singapura secara jelas diceritakan oleh Raja Haji Ahmad dalam suratnya yang bertarikh 17 Ramadan 1373 H kepada Haji Wan Abdullah bin Haji Wan Abdur Rahman saudara sepupunya.
Beberapa perkara yang penting di antaranya saya petik, "Dan tentang pertanyaan adinda permulaan mendirikan Ahmadiah Midai ialah kekanda tarikhkan mendirikan rumah di laut Sabang Barat di hadapan rumah tauke Aniu. Lihatlah di dalam jurnal kekanda di Ahmadi dan Surat Kebenaran dari Yang Dipertuan Besar Riau masih ada kekanda simpan tinggal di Penyengat ... Maka pada masa itu berjalanlah perniagaan Ahmadi hingga kekanda dipanggil oleh Yang Dipertuan Besar Riau kerana muafakat hendak membeli kapal yang bernama Kapal Karang ... "
Setelah Kapal Karang dibeli maka terjadilah perkongsian antara Syarikat Ahmadi dengan Syarikat Batu Batam yang dipunyai oleh Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi. Syarikat Batu Batam ini diuruskan oleh anaknya, Raja Ali Kelana. Syarikat ini tidak dapat bertahan lama kerana dikhianati oleh beberapa peniaga Cina di Singapura. Walau bagaimanapun dengan kebijaksanaan Raja Haji Ahmad dan anak saudaranya, Raja Ali bin Raja Haji Muhammad Tengku Nong (cucu Marhum Mursyid), Ahmadi & Co. Midai tidak dapat dipermainkan oleh peniaga-peniaga Cina di Singapura.
Raja Haji Ahmad memang diakui seorang tokoh Riau yang sangat teliti dalam bidang pentadbiran. Dalam salah satu buku yang tersimpan di Ahmadi & Co. Midai telah ditemui tulisan ini. “Pada 10 Syaaban 1324 H bersamaan 17 September 1906 M dimulai membuka kedai di Pulau Midai, Sabang Barat”.
Sewaktu Raja Haji Ahmad berada di Mekah hubungan komunikasi surat-menyurat antara beliau dengan Raja Ali bin Raja Muhammad Tengku Nong tidak pernah terputus. Dalam surat Raja Ali yang bertarikh 28 Rejab 1332 nombor 19 dan 92 kepada Raja Haji Ahmad di Mekah ada dinyatakan bahawa syarikat Ahmadi akan mengembangkan perniagaannya. Raja Haji Ahmad bersetuju. “Syahdan adapun muafakat Paduka anakanda hendak membesarkan perniagaan Ahmadiah, dihamburkan modalnya di Pulau Tujuh hingga ke Singapura, maka pekerjaan itulah seelok-elok pekerjaan menurut peraturan orang-orang Eropah membesarkan pekerjaan dengan muafakat. Maka sangatlah ayahanda perkenan akan muafakat itu ...”
Setelah Raja Ali mendapat persetujuan Raja Haji Ahmad, dengan Akta Midai, 1 Syaaban 1333 H bersamaan 14 Jun 1915 M maka rasmilah pembukaan cawangan Ahmadiah Pulau Tujuh-Singapura yang berpejabat di Palembang Road No. 18B, Singapura. Cawangan itu kemudiannya berpindah ke Minto Road No. 50.
Cawangan ini berfungsi menguruskan hasil bumi dan hasil laut yang datang dari Pulau Tujuh, Sumatera dan Malaya. Dengan memakai tanda Syarikat Ahmadi & Co. Midai cawangan Singapura, syarikat tersebut melakukan kegiatan eksport hasil bumi dan hasil laut ke benua Eropah. Selain itu syarikat itu juga mengimport barangan dari Eropah, India dan Cina ke Singapura.
Pendek kata, Ahmadiah cawangan Singapura adalah sebagai lambang kemampuan bangsa Melayu dalam bidang perdagangan pada zaman itu. Pada hari Jumaat 20 Rabiulawal 1339 H bersamaan 3 Disember 1920 M muafakat pula mendirikan percetakan terkenal dengan nama Mathba’ah Al-Ahmadiah atau Al-Ahmadiah Press 101 Jalan Sultan Singapura.
Sejarah menuntut ilmu* Raja Haji Ahmad menyerahkan pimpinan Syarkah Ahmadi & Co. Midai kepada Raja Ali (cucu Marhum Mursyid) pada 1914 untuk mendalami pelbagai bidang ilmu.
* Di Mekah - berguru dengan Syeikh Muhammad bin Ismail al-Fathani dan Syeikh Daud bin Mushthafa al-Fathani (ilmu keislaman)
* Beliau belajar ilmu al-Quran daripada Syeikh Abdullah bin Qasim Senggora.
* Pernah mengembara ke beberapa negeri di Asia Barat serta mengunjungi Calcutta dan Bombay di India.
* Beliau juga adalah pengasas syarikat Ahmadi & Co. Midai pada 10 Syaaban 1324 H bersamaan 17 September 1906 di Pulau Midai, Sabang Barat.

Sejarah Pulau Penyengat.


Di Copy Dari Blog Pulau Penyengat ( Kampong Halaman ) Tulisan yg berhubungan dengan Pulau Penyengat..
Selamat Membaca... Semoga Bermanfaat..

Sejarah Pulau Penyengat..

SUATU hal yang tercatat dalam sejarah adalah bahwa mesjid ini merupakan satu-satunya peninggalan Kerajaan Riau-Lingga yang utuh. Harap diingat, Penyengat pada akhirnya tidak saja sebagai tempat berkedudukannya seorang Yang Dipertuan Muda atau semacam Perdana Menteri Kerajaan Melayu Riau-Lingga, tetapi juga tempat kedudukan Sultan sejak tahun 1900 dengan segala macam pembangunan fisiknya; sebutlah di antaranya berbagai macam istana, mahkamah, rumah sakit, listrik, dan jaringan telepon yang tersedia sebelum abad ke-20.

Alkisah, nama pulau Penyengat muncul dalam sejarah Melayu pada awal abad ke-18 ketika meletusnya perang saudara di Kerajaan Johor-Riau yang kemudian melahirkan Kerajaan Siak di daratan Sumatera (masih di Riau). Pulau ini menjadi penting lagi ketika berkobarnya perang Riau (akhir abad ke-18) pimpinan Raja Haji Fisabilillah yang pada tahun 1997 diangkat sebagai pahlawan nasional. Raja Haji menjadikan pulau ini sebagai kubu penting yang dijaga oleh orang-orang asal Siantan, dari kawasan Pulau Tujuh di Laut Cina Selatan.
Cerita rakyat menyebutkan, nama pulau tersebut diambil dari nama binatang yakni penyengat (sebangsa lebah), semula dikenal sebagai tempat orang mengambil air dalam pelayaran di kawasan ini. Konon, suatu kali para saudagar yang mengambil air di situ diserang binatang tersebut. Pihak Belanda sendiri menjuluki pulau itu dengan dua nama yakni Pulau Indera dan Pulau Mars. Kini pulau itu lebih dikenal dengan nama Penyengat Inderasakti.
Pada tahun 1805, Sultan Mahmud menghadiahkan pulau itu kepada istrinya Engku Putri Raja Hamidah, sehingga pulau ini mendapat perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Perhatian itu semakin mantap dinikmati Penyengat, ketika beberapa tahun kemudian, Yang Dipertuan Muda Jaafar (1806-1832) memindahkan tempat kedudukannya di Ulu Riau (Pulau Bintan) ke Penyengat, sedangkan Sultan Mahmud pindah ke Daik-Lingga.
Dengan pengalamannya sebagai pengusaha timah di Semenanjung Malaya dan selalu berpergian ke berbagai tempat sebelum diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda, Raja Jaafar membangun Penyengat dengan cita-rasa pemukiman yang molek. Sejumlah pengamat asing menyebutkan, Penyengat ditata sebaik-baiknya tempat yang terlihat dari penyusunan pemukiman, keberadaan tembok-tembok, saluran air, dan jalan-jalan. Pada gilirannya, Sultan Abdurrahman Muazamsyah, tahun 1900 memindahkan tempat kedudukannya dari Daik ke Penyengat.
Setelah menolak menandatangani politik kontrak dengan Belanda dan melakukan berbagai macam bentuk perlawanan, Sultan Abdurrahman Muazamsyah diturunkan dari tahta oleh penjajah. Tak seorang pun orang Melayu yang bersedia menjadi Sultan setelah itu, Abdurrahman Muazamsyah bahkan mengilhami orang-orang Riau meninggalkan Penyengat menuju Singapura dan Johor tahun 1911. Hanya beberapa ratus orang penduduk dari 6.000 orang penduduk waktu itu yang tinggal di Penyengat setelah peristiwa tersebut.
Dengan demikian, bangunan-bangunan kerajaan terbiarkan, bahkan dijarah. Selentingan dari penduduk terdengar cerita tentang bagaimana di antara para bangsawan mengharapkan agar bangunan-bangunan yang ada hendaklah dirubuhkan daripada diambil oleh Belanda. Tindakan semacam itu tidak mungkin dilakukan terhadap Mesjid Sultan, malahan rumah ibadah ini dipelihara baik sebagaimana mestinya sebuah rumah ibadah.
Sebenarnya, Mesjid Sultan di Pulau Penyengat sebagaimana disebutkan dalam Tuhfat al-Nafis (buku sejarah Melayu) karya Raja Ali Haji, dibangun seiringan dengan dihadiahkannya pulau tersebut kepada Engku Putri Raja Hamidah oleh Sultan Mahmud. Cuma saja, waktu itu, mesjid tersebut terbuat dari kayu. Raja Jaafar yang membangun Penyengat sebagai bandar modern hanya pernah memperlebar mesjid itu karena penduduk Pulau Penyengat semakin banyak.
Dalam buku Mesjid Pulau Penyengat yang disusun Hasan Junus disebutkan, pembangunan mesjid itu secara besar-besaran dilakukan ketika Raja Abdul Rahman memegang jabatan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga (1832-1844), menggantikan Raja Jaafar. Tak lama setelah memegang jabatan itu yaitu pada tanggal 1 Syawal tahun 1284 H (1832 M) atau 165 tahun yang lalu, setelah usai shalat Ied, ia menyeru masyarakat untuk ber-fisabilillah atau beramal di jalan Allah.
Caranya adalah dengan membangun mesjid di atas tapak mesjid yang lama. Suatu mesjid yang dapat meninggalkan zaman yaitu dapat digunakan mulai saat dibina sampai kepada anak cucu mendatang. Seruan ber-fisabilillah itu sangat kuat bergaung, setelah seruan serupa dikumandangkan dalam perang Riau, sehingga berduyun-duyunlah masyarakat datang dari berbagai tempat untuk bergotong-royong. Khusus pada sepekan pertama, para lelaki selain penjaga malam, dilarang keluar rumah agar siangnya dapat menyumbangkan tenaganya untuk mesjid. Akhirnya, pembuatan fondasi mesjid selesai dikerjakan selama tiga pekan.
Tidak saja tenaga, mereka juga menyumbangkan makanan seperti beras, sagu, dan lauk-pauk termasuk telur ayam. Makanan itu berlimpah-ruah, bahkan konon putih telur sampai tidak habis dimakan. Atas saran tukang pada bangunan induk mesjid, putih telur itu akhirnya dicampur dengan semen untuk perekat batu. Itulah sebabnya mengapa banyak masyarakat menyebutkan bahwa mesjid tersebut dibuat dari telur.
Kini kawasan mesjid itu berukuran 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya adalah 29,3 x 19,5 meter, disangga oleh empat tiang. Lantai bangunannya dibuat dari batu bata tanah liat. Di halaman mesjid, terdapat dua buah rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat musyawarah. Selain itu terdapat juga dua balai, tempat orang biasanya menghidangkan makanan ketika kenduri dan untuk berbuka puasa yang disediakan pengurus mesjid setiap hari seperti juga tahun ini. Khusus bangunan induk, Raja Hamzah Yunus mengatakan, “Tidak ada perubahan semenjak pertama dibangun oleh Raja Abdul Rahman.”
Tak pelak lagi, keberadaannya memang amat lain dibandingkan mesjid semula yang terbuat dari kayu. Seperti dikisahkan dalam Mesjid Pulau Penyengat, semula mesjid itu berlantai batu merah empat persegi, sedangkan dindingnya terbuat dari kayu cengal (Balanocarpus heimii) yang didatangkan dari Selangor (kini masuk Malaysia). Atapnya terbuat dari kayu bekian. Hanya terdapat sebuah menara setinggi 12 hasta, ditambah sebuah kubah berukuran 17 hasta. Mesjid ini diberi pagar hidup dengan pohon-pohonan yang tumbuh merimbun.
Patutlah diakui bahwa bentuk Mesjid Sultan di Penyengat kini sangat unik. Sulit bagi orang untuk menentukan asal arsitekturnya. Ada yang mengatakan, mesjid ini bergaya India berkaitan dengan tukang-tukang dalam membuat bangunan utamanya adalah orang-orang India yang didatangkan dari Singapura. Tetapi yang jelas, arsitektur mesjid merupakan gaya campuran dari berbagai wilayah budaya seperti Arab, India, dan Nusantara. Dalam dua kali pameran mesjid pada Festival Istiqlal di Jakarta (1991-1995) disebutkan bahwa Mesjid Sultan ini merupakan mesjid pertama di Indonesia yang memakai kubah.
Terdapat 13 kubah di mesjid itu yang susunannya bervariasi seperti ada “kelompok” kubah dengan jumlah tiga dan empat kubah. Ditambah dengan empat menara yang masing-masing memiliki ketinggian 18,9 meter, maka dapatlah dijumlahkan bahwa bubung yang dimiliki mesjid tersebut sebanyak 17 buah. Ini diartikan sebagai jumlah rakaat dalam shalat yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam dalam sehari semalam yakni subuh (dua rakat), zuhur (empat rakaat), asyar (empat rakat), maghrib (tiga rakaat), dan isya (empat rakaat).
Keunikan di dalam mesjid masih banyak. Paling menarik perhatian adalah terdapatnya mushaf Alquran tulis tangan yang diletakkan dalam peti kaca di depan pintu masuk. Mushaf ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul tahun 1867. Ia adalah salah seorang putra Riau yang dikirim Kerajaan Riau-Lingga untuk menuntut ilmu di Istambul, Turki. Disebabkan tempat belajarnya, penulisan mushaf Alquran itu bergaya Istambul yang dikerjakannya sambil mengajar agama Islam di Penyengat.
Alquran tulis tangan lain yang ada di mesjid itu dan tidak diperlihatkan kepada umum, ternyata lebih tua yakni dibuat tahun 1752. Uniknya, di bingkai mushaf yang tidak diketahui penulisnya ini terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Alquran, bahkan terdapat berbagai terjemahan dalam bahasa Melayu terhadap kata per kata di atas tulisan ayat-ayat tersebut. Ini menunjukkan bahwa di sisi lain, orang-orang Melayu tidak saja menulis ulang mushaf, tetapi juga coba menerjemahkannya.
Tentu saja mushaf tersebut tidak dapat diperlihatkan kepada umum karena sudah amat rusak. Mushaf ini tersimpan bersama 300-an kitab dalam dua lemari di sayap kanan depan mesjid. Kita-kitab tersebut adalah sisa-sisa kitab yang dapat diselamatkan dari perpustakaan Kerajaan Riau-Lingga, Kutub Khanah Marhum Ahmadi, yang tidak terbawa bersama eksodusnya masyarakat Riau awal abad ke-20 ke Singapura dan Johor. Dalam suatu kunjungannya tahun 1970-an, Buya Hamka menilai bahwa buku-buku tersebut merupakan buku-buku penting yang tinggi nilainya dalam Islam.
Benda yang juga cukup menarik perhatian di mesjid ini adalah mimbar yang terbuat dari kayu jati. Sebuah sumber menunjukkan bahwa mimbar ini sengaja ditempah di Jepara, Jawa Tengah, sebanyak dua mimbar. Satu mimbar diletakkan di Mesjid Sultan di Penyengat ini, sedangkan mimbar lain yang berukuran lebih kecil, diletakkan pada mesjid di Daik. Jepara, memang sudah lama dikenal di Riau, bahkan misi dagang Riau yang dipimpin Raja Ahmad, sempat berada di wilayah itu tahun 1826. Di antara anggota misi ini adalah pujangga Raja Ali Haji yang keranda (peti mati) untuknya sempat juga dibuat di Jepara karena ia sakit keras ketika berada di situ.
Hasan Junus mengatakan, di dekat mimbar itu disimpan sepiring pasir yang dikatakan berasal dari Makkah al-Mukarramah, melengkapi benda-benda lain semacam permadani Turki dan lampu kristal. Pasir ini dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua yang dikenal sebagai bangsawan Riau pertama mengerjakan haji tahun 1820-an, hasil perdagangannya di Jawa sampai ke Betawi. Pasir tersebut senantiasa digunakan masyarakat dalam upacara jejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi kanak-kanak.

penampilan suasana dalam Idul Fitri dan lintasan sejarah yang dikandung Mesjid Sultan itu yang agaknya “mengusik” hati orang luar datang mengerjakan shalat Idul Fitri atau Jumat (lihat: Naksabandiyah dan Berbagai Kegiatan).
Pada gilirannya, kunjungan pendatang dari luar itu merupakan hikmah tersendiri bagi Mesjid Sultan. Ini terbukti banyaknya uang terkumpul dari infak dan sedekah pengunjung. Seorang pejabat Departemen Perhubungan di Jakarta beberapa tahun lalu sempat terkagum-kagum sambil mengatakan bagaimana sebuah mesjid yang berada di desa dengan mata pencaharaian penduduk adalah buruh dan pegawai negeri, memiliki kas di atas Rp 100 juta.
Keterangan terbaru menyebutkan, kas tersebut kini sudah membengkak menjadi Rp 200 juta lebih. Uang inilah yang dikelola untuk berbagai kegiatan seperti pendidikan keagamaan bagi kanak-kanak. Setiap bulan Ramadhan, pengurus menyediakan makanan berbuka puasa bagi 40 orang. Tak ada syarat untuk itu kecuali memang berpuasa dan memerlukannya. Selebihnya, dana tersebut diperlukan untuk memakmurkan mesjid.
Bayangkan saja, untuk memperindah mesjid, baru-baru ini dipasang lampu mewah pada dua menara mesjid seharga Rp 12 juta. Tak pelak lagi, dari Tanjungpinang, menara mesjid itu terlihat bagai mercusuar-seperti menjalani fungsi mercusuar sebenarnya agar orang tidak tersesat berlayar pada malam hari. Menaranya yang terang benderang terlihat seperti dua belah tangan yang mengaminkan doa ke langit, sekaligus mengingatkan orang akan wujud Allah.
Pengurus mesjid pula tampaknya tidak terlalu ortodoks terhadap pengunjung yang setiap hari mengunjunginya dalam angka relatif-dapat mencapai 1.000 orang pada hari Minggu atau pada hari libur. Mereka dipersilakan melihat-lihat keadaan mesjid setiap saat. Tentu saja, kegiatan melihat-lihat itu tidak lepas dari usaha agar tetap mengingatkan diri kepada Allah, sehingga seorang pengunjung tetap dituntut berlaku sopan. Pengunjung lelaki misalnya, tidak diperkenankan naik ke mesjid kalau hanya memakai celana pendek. Selain itu orang tidak dibenarkan mengambil foto di dalam mesjid.
Tak hanya sampai di situ. Fasilitas mesjid dapat digunakan untuk berbagai kegiatan sosial keagamaan. Dua balai yang berada di halaman mesjid, dapat dijadikan tempat diskusi keagamaan dan kebudayaan. Tahun lalu misalnya, pengurus membenarkan pengisi kegiatan Hari Raja Ali Haji mengadakan kegiatan di dalam kompleks mesjid seperti bimbingan penulisan kreatif dan latihan membacakan syair dan Gurindam Duabelas.
Ya, Mesjid Sultan merupakan salah satu dari belasan obyek wisata di Pulau Penyengat sebagai obyek wisata andalan Riau, apalagi dalam saat hari raya seperti sekarang. Tetapi untuk soal agama, Mesjid Sultan tidak bisa ditawar-tawar karena fungsinya tetaplah sebagai rumah ibadah. Mesjid ini seolah-olah hendak mengatakan bahwa pandangan terhadap dunia tidak mungkin ditutup, tetapi pandangan kepada akhirat tetap dibuka selebar-lebarnya

BLOG PARIMBUNIS

BLOG INI ADALAH DIKHASKAN UNTUK AHLI KELUARGA PARIMBUNIS, BERINTERAKSI DAN MENYALUR MAKLUMAT SEMASA, SEMUGA DAPAT MENGERATKAN HUBUNGAN SIRATULRAHIM.

Bercakap-cakaP


ShoutMix chat widget

AsmauL Husna

Jutawan Emas

Click here ContacT me!! Dealer: Abdullah Johor Bahru, Johor. En. Abd.Lah @ Abdullah Bin Awang Mobile: 016-716 6515 Email: q_eyda@yahoo.com.sg

PengunjunG

blogspot hit counter

Follow me